30 Mar 2008 18:35 - redaksi
Catatan Anggota GAM yang Beraksi di Ciremai
SABTU, 22 Maret 2008 rombongan GAM (Grage All Mountain) kumpul di Jembatan tol arah Sumber, ibukota Kabupaten Cirebon. Diawali menaikkan sepeda ke atas pick up, kami mulai berangkat pukul 06.30 WIB, tujuannya Rajagaluh. Rupanya yang duduk di depan belum hapal jalan masuk ke Sadarehe. Perjalananpun ke Sadarehe sempat nyasar sampai ke pasar. Akhirnya kami putuskan istirahat sejenak untuk sarapan pagi di tukang bubur pinggir jalan. Setelah selesai makan masing-masing dua mangkuk bubur, perjalanan pun diteruskan menyusuri jalanan kampung yang sempit dan menanjak. Beberapa kali kami harus berhenti untuk memberi jalan kendaraan dari arah yang berlawanan, karena sempit dan tajamnya tanjakan. Sampai Sadarehe, pukul 08.30 WIB. Kami rehat sejenak untuk sekadar beramah-tamah dengan penduduk setempat sambil menggali info jalur yang akan kami lalaui, tak lupa kami sempat berfoto ria.
Penelusuran dimulai dengan menyusuri perpaduan jalanan tanah batu-batu yang hidup dan bekas aliran air. Karena banyak lubang jebakan bekas aliran air kami harus waspada, Kalau saja bukan bekas air pasti akan sangat menyenangkan menyusuri trek ini. Kurang lebih seperempat jam kami menemukan perempatan, atas pembicaraan kami dengan beberapa orang penduduk kami pun mengabil arah kiri menyusuri jalanan tanah berbatu di samping kanan kiri perkebunan sayur.
Awalnya suasana cerah ceria menghiasi perjalanan di ketinggian 1150 mdpl. Sepanjang jalan yang kami lalui, di samping kanan dihiasi ladang penduduk dan kabut tipis dibawahnya. Di kanan gunung Ciremai nampak gagah. Diantara indahnya ketinggian ini kami pun berfoto-foto ria mengabadikan saat yang indah bersama "selingkuhan" masing-masing. Target pertama kami pada saat itu adalah Telaga Remis atau minimal sampai di Padabeunghar Pasawahan.
Tidak lebih dari setengah jam, jalanan mulai berubah jadi setapak yang terjal lebih mirip pematang. Korban pertama mulai jatuh, Pak Kas dengan hardtailnya sebagai pembuka. Belum lama kami menuruni trek yang lebih mirip selokan itu kami pun berputar arah kembali mendaki. Atas saran penduduk setempat dan keinginan untuk mempertahankan ketinggian kamipun balik arah menuju hutan mengikuti jalan setapak yang mulai menghilang ditelan lebatnya semak-semak dan pohon-pohon hutan.
Kami sempat diingatkan peladang yang lain untuk tidak mengambil arah ke sana. Bahkan sampai ada yang teriak-teriak. ”Ulah kaditu kelong wewe na galak-galak,” katnya. Kami sempet ragu apakah teriakan itu bener-bener peringatan atau sekadar guyonan mereka yang asing melihat sepeda di lingkungan pegunungan Ciremai sebelah barat ini. Karena dirasa sudah nanggung akhirnya perjalananpun dilanjutkan. Mulailah sepeda kami tuntun dan sesekali dinaikin di pundak untuk digotong melewati jalanan naik dan turun.
Beruntung ada peladang yang mau nyusul kami menunjukan jalan sampai di pertigaan yang katanya, kalau ke arah kanan arah ke gunung. Rupanya pak tani tadi yang menunjukkan arah ke sini, tapi teman-temannya disalahkan. "Takut nyasar," katanya. Mungkin karena tanggung jawab moral si bapak ninggalin kerjaannya mengantar kami sampai di titik aman.
Sebenernya dari awal target kami adalah Padabeunghar Pasawahan. Mulai dari sini perjuangan tiada akhir dimulai. Hanya sesekali kami bisa naik di atas sadel, selebihnya nuntun sepeda, itupun dengan penuh perjuangan. Mulai satu-satu acara terbang terlempar dari sepeda saling susul-menyusul. Diawali dengan Pak Kas, Pak Rhomdoni, Pak Asep, lalu Pak Roy. Kayaknya semuanya merasakan terlempar dari sepeda. Beruntung tidak ada yang teluka parah.
Jalanan yang turun curam diselingi akar-akar yang melintang di jalan menghalangi perjalanan kami. Yang lucu di tengah-tengah perjalanan Rhomdoni sempet mengingatkan. "Begini lho cara nuntun sepeda yang baik. Sepeda di kiri, orangnya di kanan," ucapnya. Belum sempat berhenti ngomong, gedubrag! Dia sendiri yang jatuh. Akhirnya semua teriak itu tadi contoh yang salah jangan, ditiru.
Saya sendiri sudah dua kali terjungkal, yang ketiga disertai ban kempes. Sialnya ban cadangan tidak saya bawa. Temen-temen ada yang bawa tapi modelnya beda, alhasil tidak masuk ke pelek. terpaksa perjalananpun dihentikan dan acara tambal menambalpun dimulai. Selesai menambal perjalananpun dilanjutkan. Anggota GAM mulai ciut nyalinya setelah sekian lama kita berjalan tidak ada tanda-tanda menemukan jalan yang gowesable (enak menggenjot sepeda).
Tidak ada diantara kami yang berani minum air perbekalan, karena memang rata-rata sudah mulai menipis. Beruntung saat itu cuaca mendung, sehingga tidak banyak memerlukan air minum. Setelah jalan beberapa saat banku pun mulai kempes lagi. Karena hujan mulai turun ban hanya dipompa. Saya sudah malas buka-buka ban.
Acara narsis pun sudah jarang dilakukan, rupanya semuanya mulai fokus pada trek. Dalam situasi seperti ini sepeda tidak lagi menjadi kawan yang menyenangkan, tapi cenderung menjadi beban yang menguras energi. Entah sudah berapa orang yang jatuh terjungkal. Ketika kami ketemu sama aki-aki yang memanggul pisang, harapan pun mulai ada. Teman-teman mulai cerah kembali.
Hujan mulai reda ketika kami menemukan beberapa selang air milik penduduk. Berarti tak lama lagi kami akan bertemu kampung dan berarti akan bertemu warung. Akhirmya kami putuskan untuk istirahat sejenak dan membuka bekal untuk menganjal perut. Akhirnya pekerjaan Kasi Logostik GAM yang selalu dijabat Pak Roy pun berkurang karena hanya sekejap perbekalan Pak Roy yang selalu banyak ludes dalam sekejap.
Selesai ngisi perbekalan, saya sempetkan ngisi angin di ban depan. Perjalanan dilanjutkan, seperempat jam kemudian kami menemukan patok TNGC (Taman Nasional Gunung Ciremai, disusul rumah pertama kemudian jalan aspal rusak. Setelah kurang lebih tiga jam kami nuntun sepeda, dari sinilah sepeda kami mulai berfumgsi sebagaimana mestinya. Dan akhirnya kami menemukan jalan aspal. Kami sempet mencari-cari orang untuk bertanya, karena tidak ketemu akhirnya saya ambil arah ke kiri mengikuti feeling.
Setelah sedikit menanjak, akhirnya kami menemukan jalanan aspal yang menurun terjal dengan tikungan tajamnya. Karena sangat tajamnya, lagi-lagi korban berjatuhan. Kali ini Pak Roy yang remnya nglosor, akhirnya nabrak batu. Diikuti Pak Kas yang masih menggunakan v break, dipaksa masuk halaman rumah orang, karena sepedanya tidak bisa dikendalikan.
Dijalanan, ini kami harus bekerja keras menyesuaikan geometry dan fungsi rem serta mengatur berat badan, agar sepeda bisa terkendali. Kami sempat berhenti sejenak, ketika sampai di Balai Desa Babakan dan bertanya arah ke Telaga Remis. Kali ini di luar dugaan, begitu ditunjukan arah ke Telaga Remis, bisa ditempuh dengan single trak tak satupun yang mau. Akhirnya kami balik kanan menuruni jalanan aspal menuju tujuan utama, hanya satu yaitu ketemu warung. Kurang lebih seperempat jam kami meliuk-liuk bak rol coaster, sekitar pukul 13.00 WIB kami menemukan warung. Akhirnya pesta mi instan pun kesampaian. Tidak tanggung-tanggung, indomie telur plus telur ceplok.
Usai menyantap mi instant kami pun melakukan ritual re-cheking tunggangan dan kondisi yang menungganginya. Rupanya tanpa disadari, Pak Roy mendapat luka yang mungkin serius karena terjepi fork dan down tube, jari kelingkingnya membiru. Tidak mau mengambil resiko yang tidak diinginkan, kelingking Pak Roy diikat pakai kayu dan diperban. Puas makan indomi, sholat dan istirahat perjalananpun dilanjutkan. Setelah menyusuri jalan kampung kami sampai di Pasar Ikan Lengkong, terus ke arah Bobos dan full on road yang membosankan ke Cirebon. Akhirnya perjalanan pun kami akhiri dengan tujuan ke rumah masing-masing. Perjalanan ini memang melelahkan, namun suatu saat kami akan datang kembali ke Ciremai.***
Suwarso, Anggota GAM (Grage All Mountain) dan pegiat Bike2Work Cirebon
Komentar
maya
pada 31 Mar 2008 00:10 :
Menarik sekali petualangannya. ada rute yang ramah perempuan gak ya? Markas GAM dimana?

sechoen
pada 31 Mar 2008 07:29 :
banyak dong... markas nya nomaden. Salah satu persinggahananya di Rumah Pena

lanange cherbon
pada 2 Apr 2008 07:47 :
sepedanya mahal2 gak pak?pengen ikut sih tapi masih newbie banget nih hehehehehe







