KUNINGAN : Pemasaran adalah salah satu kendala yang sering dihadapi masyarakat ketika memiliki sebuah produk. Begitu pun masyarakat desa hutan di Kabupaten Kuningan yang telah menghasilkan beragam produk dari kegiatan pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM).
Aneka produk hasil hutan, kayu maupun bukan kayu, mentah maupun setengah jadi dan juga olahan sangat sulit dijual ke pasaran. Kalaupun ada masyarakat terpaksa ‘banting harga’ karena permainan tengkulak dan mekanisme pasar yang tidak berpihak pada mereka sebagai produsen.
Ketua Paguyuban Masyarakat Tani Hutan (PMTH) Kabupaten Kuningan, Eddy Syukur mengatakan bahwa posisi tawar masyarakat sangat lemah ketika harus berhadapan dengan mekanisme pasar. "Begitu sulitnya untuk memotong rantai penjualan karena sepertinya sudah dikuasai mafia yang sangat kuat ikatannya," ungkapnya.
Jangankan mendapat untung, imbuh Eddy, untuk memperoleh harga kembali modal saja
tidak bisa. "Jadi wajar bila masyarakat desa hutan masih belum terangkat kesejahteraannya,” tegas Eddy.
Menyikapi kondisi ini, PMTH dengan dukungan Kanopi Kuningan sedang menjajagi pemasaran produk-produk yang dihasilkan masyarakat desa hutan di Kabupaten
Kuningan. Tujuan pemasaran adalah ke Bogor dan Jakarta melalui kemitraan dengan Kedai Halimun-Bogor.
Manager Program Kanopi, Rachmat Firmansyah mengatakan jalinan kemitraan terbangun setelah PMTH dan Kanopi mengikuti acara Pertemuan Mitra Kedai Halimun Seri
Kedua yang diselenggarakan di Bogor tanggal 24-25 Maret 2008.
"Untuk tahap awal produk yang akan dipasarkan adalah makanan dan minuman olahan yang dihasilakan kelompok usaha bersama kaum perempuan," ungkap Rachmat.
Bentuk kemitraan PMTH-Kanopi dengan Kedai Halimun adalah promosi produk melalui media internet dan penjualan produk ke pasar Bogor dan Jakarta. Yang pertama kali akan dihubungkan penjualannya adalah Gemblong produksi Kelompok Wanita Tani Hutan (KWTH) Padamulya Desa Padabeunghar serta Tigapo, Noga Kelapa Kacang, dan Noga Kelapa Jahe produksi KWTH Mekar Bersama Desa Linggajati.
Arief Rahman, Manajer Kedai Halimun mengatakan keempat produk tersebut didahulukan mengingat keunikannya sebagai makanan khas Kuningan dan belum ada di pasaran Bogor maupun Jakarta.
“Walaupun kemitraan penjualannya baru untuk empat produk, tapi untuk promosi melalui website Kedai Halimun, kami akan tetap mengangkat semua produk yang dihasilkan kelompok lain,” ujar Arief. (BC-33)

Hatur nuhun








