PANAS matahari tidak mengurangi semangat Kusnadi (31) pedagang tahu gejrot yang merupakan makanan khas Cirebon untuk menjajakan dagangannya. Siang itu ia sibuk melayani langganannya. Tangan kanannya memegang ulekan, menghancurkan bawang merah bercampur cabai hijau dan mencampurnya dengan air gula dan cuka lalu memasukkannya ke dalam potongan tahu.
Mengapa diberi nama tahu gejrot?. Menurut Kusnadi, bumbu cair yang digunakan sebagai penyedap dialirkan lewat botol dengan cara diguncangkan sehingga timbul bunyi “gejrot” berulang kali. Para pedagang tahu gejrot ini biasanya menggunakan pikulan bagi penjual laki-laki untuk membawa barang dagangannya. Atau menggunakan tampah yang diusung di atas kepala bagi penjual wanita.
Para pedagang tahu gejrot sangat mudah ditemui di sekitar kota Cirebon karena termasuk makanan ringan yang cukup populer. Jenis tahu yang digunakan adalah semacam tahu Sumedang tapi agak berbeda sebab isinya jauh lebih sedikit sehingga terlihat kosong. Cara makannya pun unik yaitu ditusuk dengan biting (potongan lidi).
Kusnadi yang sehari-harinya berdagang berkeliling di kecamatan Kesambi ini mengaku, tetap jualan walau harga kedelai membubung tinggi. Meski beberapa pedagang tahu gejrot lainnya sudah beralih profesi berjualan rujak atau es, tidak berarti Kus berhenti menjalankankan usahanya.
"sekarang cari pekerjaan sulit, hanya pekerjaan ini yang bisa saya lakoni," ujarnya.
Biasanya, Kusnadi membawa tahu yang berukuran 2x2 sentimeter itu dalam jumlah yang cukup banyak, antara 200 sampai 400 tahu setiap harinya. " Bahkan jika hari Sabtu dan Minggu bisa sampai 700 tahu," ujar ayah empat anak ini.
Kusnadi mengaku masih bisa berdagang, sejak kenaikan bahan baku tahu, dirinya mengurangi jumlah tahu dagangannya. Kondisi ini juga membuat penghasilan yang dibawa Kusnadi tidak seperti biasanya, hanya Rp 20.000 per hari. Padahal, biasanya, keuntungan berjualan tahu gejrot bisa diperoleh hingga Rp 40.000 setiap harinya. Meski begitu, dia tidak berniat mengurangi porsi tahu atau menaikkan harga.
Satu piring berisi 10 tahu masih dijualnya Rp 3.000. Sementara untuk ukuran setengah porsi atau sama dengan isi enam tahu tetap dijual Rp 2.000. “Saya tidak menaikkan harga karena tidak mau mengecewakan pelanggan yang sudah sering makan tahu gejrot saya,” katanya.
Apalagi, pria asal Jatiseeng ini yakin kenaikan harga kedelai tidak akan berlangsung lama dan akan kembali stabil. “Asalkan pemerintah membantu masyarakat menurunkan harga kedelai,” harapnya.(BC-212)
Belum ada Komentar






