files/1-sslogo.jpg
Logo
Feature
Kertas Semen Pengganti Rotan
EKSPOR bahan baku rotan yang dibuka pemerintah membuat pengusaha rotan di Cirebon semakin kesulitan untuk mendapatkan bahan baku rotan. Pengusaha yang tidak melakukan inovasi-inovasi banyak yang kolaps dan gulung tikar.

Menurut salah satu pengusaha rotan Tegalwangi, Suhermanto, saat ini pasokan bahan baku rotan hanya sekitar 1000 ton per bulan padahal sebelum ekspor bahan baku dibuka bisa mencapai 4000 ton per bulannya.

"Kini hanya tinggal pengusaha yang kuat modal saja yang mampu bertahan. Caranya, terus melakukan inovasi mencari pengganti rotan, membuat model-model furniture terbaru dan kerja keras," katanya.

Salah satu inovasi yang dilakukan adalah memanfaatkan bahan-bahan sekitar sebagai pengganti rotan, seperti enceng gondok, serat nanas atau kertas semen.

Seperti dilakukan pengusaha rotan asal Tegalwangi Agus Yamin yang sudah sejak tiga tahun memanfaatkan kertas semen sebagai pengganti rotan.

Hasilnya, "rotan" dari kertas semen ini sangat mirip dengan rotan yang sebenarnya. Baik dari warnanya, ukuran dan bentuknya.  

"Waktu itu saya jalan-jalan ke Italia dan melihat sebuah kursi rotan.Namun setelah diamati ternyata bukan rotan tetapi kerta yang biasadigunakan untuk kertas semen yang dipilin dibentuk seperti rotan. Dari situlah ide muncul," katanya.

Kursi yang dibuat memang tidak semuanya menggunakan kertas, namun tetap sebagian menggunakan rotan untuk kerangkanya atau besi baja,kayu jati dan bambu ukuran besar atau rotan mix.

Meski sudah menemukan alternatif  pengganti rotan dengan menggunakan kertas semen, hambatan tetap saja muncul. Selain rotan yang sangat sulit mendapatkannya, bahan baku kertas semen pun juga sulit diperoleh. Kalaupun ada, kertas semen tersebut sudah kotor atau masih terdapat tulisan merek semennya sehingga perlu didaur ulang.

Dan lagi-lagi kebutuhan kertas semen ini tetap harus mengimpor  dari luar negeri. Agus sendiri mengimpornya dari swedia. Tidak sia-sia ternyata hasil produksi furniture berbahan kertas semennya sangat diminati oleh pasar Eropa Barat.

Ditegalwangi sudah ada beberapa yang menggunakan rotan kertas semen ini, namun tetap saja bahan bakunya mengimpor dari Italia.

"Kami butuh perhatian dari pemerintah. Selama ini sepertinya kami dilupakan dan hanya bekerja sendiri. Mungkin pemerintah bisa membantu menciptakan mesin daur ulang kertas semen bekas agar tidak perlu impor." (BC-11)
Eka pada 5 Sep 2008 16:26 :
Ampun....
Kok para petinggi tuh bodo banget gak ketulungan. rotan tuh hanya indonesia yang punya, makanya mebel rotan harganya di pasaran dunia tinggi.

Gobloknya kita mengekspor bahan baku mebel dari rotan itu. Ya sudah tentu perajin mebel rotan indonesia sekarat.

Pemerintah goblok... yang dipentingkan komisi terus.
Agung priyanto pada 4 Dec 2008 19:59 :
pak maaf, mengenai ketersedian kertas semen saya rasa banyak, cuma tehnologi yang pengolahannya yang belum pasti.
Nama :
Email :
Website :
Komentar :
Kode Verifikasi
Masukkan kode Verifikasi :
files/gus_oldies.jpg
files/b2wa5.png
files/rupena6.png
files/citca7.png
files/ranaa8.png