1 Jun 2009 17:17 - Opic
Disporabudpar Butuh 3 Miliar untuk Perbaiki Gua Sunyaragi
CIREBON : Dinas Pemuda Olah Raga, Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Cirebon berencana akan meminta bantuan dana kepada Disporabudpar Provinsi Jabar untuk perbaikan situs bersejarah Taman Sari Gua Sunyaragi. Diperkirakan dana yang dibutuhkan untuk perbaikan situs tersebut sebesar 3 Miliar.Menurut Kabid Pariwisata Disporabudpar Kota Cirebon, Eman Sulaeman, dana tersebut rencananya akan digunakan untuk memperbaiki beberapa sarana yang sudah rusak dan akan ada penambahan beberapa fasilitas sarana rekreasi di beberapa lahan yang sebelumnya terbengkalai.
"Berdasarkan hasil survey Kadisporabudpar dan kepala BKPP Wilayah Cirebon, ada sekitar 28 poin yang harus direvitalisasi diantaranya kolam dibelakang pesanggrahan harus diperbaiki dan akan ditambah sarana rekreasi seperti sepeda air, atau Danau Argajumut akan dikembangkan lagi menjadi arena rekreasi baru yang semuanya masih sedang kami konsep," katanya
Dana sebesar itu, lanjut Eman tidak semuanya berasal dari Disporabudpar provinsi Jabar melainkan juga dari anggaran daerah. Namun berapa besar jumlah anggaran daerah yang tersedia dan berapa anggaran yang harus dipenuhi oleh provinsi, Eman mengaku masih sedang dalam proses penghitungan.
Rencananya proyek perbaikan Gua Sunyaragi ini akan mulai dilaksanakan dalam waktu dekat ini dan targetnya tahun 2010 nanti Taman Sari Gua Sunyaragi bisa dinikmati oleh masyarakat dengan wajah baru dan fasilitas rekreasi yang lengkap. (BC-211)
Komentar
aulia
pada 22 Jun 2009 15:06 :
Bagus dan musti semua lapisan masyarakat mendukung karena ini program nyata

eanuraga
pada 2 Aug 2009 18:44 :
Konon ku pejabat seng amanah...majukan Cirebon

iponbae
pada 4 Aug 2009 15:37 :
http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs198.snc1/6720_1022341337625_1797967555_47788_4917113_n.jpg
Menyerap Akulturasi Budaya di keraton kasepuhan
Di antara tiga keraton di cirebon, keraton kasepuhan merupakan yang terbesar dan tertua. keraton yang dibangun tahun 1529 oleh panembahan ratu pakungwati I (1526-1649), cicit sunan gunung jati itu memiliki gaya arsitektur perpaduan Sunda, Jawa, Islam,China,dan belanda. Gaya arsitektur itu mencerminkan akulturasi berbagai budaya yang memperkaya Cirebon. Perpaduan budaya tersebut berimplikasi pada pembentukan identitas dan tipikal masyarakat Cirebon yang berbeda dengan suku Sunda dan Jawa. Aura akulturasi sudah terasa saat memasuki keraton seluas 25 hektar ini. Di tengah taman yang berbentuk bundar (Bundaran Dewandaru) terdapat dua arca macan putih kembar dengan posisi berhadapan di atas gunungan. Arca yang merupakan lambang keraton kasepuhan itu kental dengan pengaruh Hindu. Adapun gerbang dan tembok yang mengelilingi keraton terbuat dari bata merah khas arsitektur Jawa. Kesan akulturasi juga tampak saat memasuki meseum yang menyimpan koleksi keraton. Salah satu koleksi museum yang paling sering mendapat perhatian pengunjung adalah Kereta Singa Barong. bentuk kerata itu mewakili tiga kebudayaan yang berkembang di Cirebon. Belalai gajah menunjukan Cirebon sudah bersahabat dengan India (Hindu), kepala naga menunjukan jalinan hubungan baik dengan China (Budha), sedangkan sayap kereta menunjukan kendaraan buraq yang menandakan Cirebon sudah menjalin persahabatan dengan kebudayaan Islam.
Menyerap Akulturasi Budaya di keraton kasepuhan
Di antara tiga keraton di cirebon, keraton kasepuhan merupakan yang terbesar dan tertua. keraton yang dibangun tahun 1529 oleh panembahan ratu pakungwati I (1526-1649), cicit sunan gunung jati itu memiliki gaya arsitektur perpaduan Sunda, Jawa, Islam,China,dan belanda. Gaya arsitektur itu mencerminkan akulturasi berbagai budaya yang memperkaya Cirebon. Perpaduan budaya tersebut berimplikasi pada pembentukan identitas dan tipikal masyarakat Cirebon yang berbeda dengan suku Sunda dan Jawa. Aura akulturasi sudah terasa saat memasuki keraton seluas 25 hektar ini. Di tengah taman yang berbentuk bundar (Bundaran Dewandaru) terdapat dua arca macan putih kembar dengan posisi berhadapan di atas gunungan. Arca yang merupakan lambang keraton kasepuhan itu kental dengan pengaruh Hindu. Adapun gerbang dan tembok yang mengelilingi keraton terbuat dari bata merah khas arsitektur Jawa. Kesan akulturasi juga tampak saat memasuki meseum yang menyimpan koleksi keraton. Salah satu koleksi museum yang paling sering mendapat perhatian pengunjung adalah Kereta Singa Barong. bentuk kerata itu mewakili tiga kebudayaan yang berkembang di Cirebon. Belalai gajah menunjukan Cirebon sudah bersahabat dengan India (Hindu), kepala naga menunjukan jalinan hubungan baik dengan China (Budha), sedangkan sayap kereta menunjukan kendaraan buraq yang menandakan Cirebon sudah menjalin persahabatan dengan kebudayaan Islam.

Dony
pada 20 Sep 2009 18:49 :
Saya berharap bgt kepada Pemda untuk dapat melestarikan dan menyelamatkan peninggalan kebudayaan








