files/prodev1.jpg
Logo
"Lebih Bagus Gasing Ketimbang PS"
CIREBON : Satu...dua...tiga...serrrrrr. Arif (8) dengan sekuat tenaga menarik tali yang melilit gasing bambu. Gasing pun berpindah dari tangannya yang mungil meluncur berputar diatas arena pertandingan adu gasing.

Suara teriakan saling mengejek diantara anak-anak yang bermain gasing menjadi perhatian para pengunjung Pekan Budaya, Seni dan film (PBSF) Nusantara di halaman dalam Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon. Tapi tidak ada yang marah atau tersinggung. Tawa mereka berbaur dengan ejeken dan suara gemeretak gasing yang terbuat dari bambu, batok kelapa atau kayu.

Ketika ditanya lebih suka bermain gasing atau play station (PS) Arif dengan semangat mengatakan lebih menyukai gasing. "Main PS harus pakai uang, kalau ini gratis dan bisa main rame-rame," ujarnya dalam logat bahasa cirebonan yang kental.

Apa yang disampaikan oleh Arif diamini oleh rekannya yang ikut menikmati permainan gasing tersebut. Mereka baru mengenal permainan yang rupanya sangat menarik dan tentunya gratis itu.

"Mainan ini tidak pakai duit, tidak pakai listrik, tapi bisa main ramai-ramai lebih menyenangkan dari pada main PS," kata Agus (11) yang dijuluki teman-temannya Gendon.

Selain gasing, sebenarnya sangat banyak jenis permainan anak-anak yang mengasah otak, ketrampilan, dan sosialisasi antar anak-anak.

Pengamat budaya Prof. Dr. Ayu Sutarto mengatakan sebenarnya ada ratusan jenis permainan anak yang saat ini hampir punah di perkotaan karena kalah dengan budaya modern.

"Ada 500 lebih suku bangsa di Indonesia, sehingga bisa jadi ada 500 jenis permainan tradisional. Kini permainan itu hanya hidup di pedesaan saja," katanya disela keramaian permainan anak tradisional di Keraton Kasepuhan.

Tenggelamnya permainan tradisional oleh budaya global tidak bisa dibendung, namun,kata dia, setidaknya harus ada upaya pemerintah untuk mempertahankan keberadaannya agar tidak punah.

"Sangat bisa permainan tradisional menjadi industri budaya dan kreatif. Bisa dalam bentuk aslinya atau bisa pula sudah dimodifikasi. Contohnya permainan yoyo. Sayangnya mainan itu buatan Jepang atau China,padahal itu kan permainan tradisional kita," ujarnya.

Dia berharap ada pemilik modal yang mau mengembangkan industri budaya berbasir permainan anak tradisional seperti yoyo, gasing dll. Sebab, kata dia, jika diproduksi secara masal  bukan tidak mungkin akan menjadi industri baru nasional yang bisa dibanggakan secara budaya dan ekonomi.

"Sayangnya saya melihat belum ada industri besar yang tertarik. Ada memang, tapi industri rumahan dan skala kecil,seperti mainan mobil-mobilan dari kayu, atau gasing."

Padahal, dari pendataan yang sudah dilakukan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tercatat ada sekitar 212 jenis permainan anak tradisional yang sudah direkonstruksi kebenarannya.

"Permainan tradisional sudah kehilangan makna baik filosofi maupun fungsi ssosial yang sudah terpinggirkan. Tidak lagi memiliki pewaris aktif yang berkomitmen melestarikannya." (BC-11)

Belum ada Komentar

Nama :
Email :
Website :
Komentar :
Kode Verifikasi
Masukkan kode Verifikasi :
files/rupen-230x60.jpg
files/bj-230x60.jpg
files/bb-230x60.jpg
files/bm-230x60.jpg