25 Jun 2009 07:58 - Raharjo
Tinggi, Kasus Gizi Buruk di Indramayu.
INDRAMAYU : Anak penderita gizi buruk di Kabupaten Indramayu ternyata cukup tinggi, mencapai 128 anak dan balita. Rendahnya tingkat ekonomi keluarga, menjadi penyebab utama munculnya kasus tersebut.
Kasi Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Ind ramayu, Diah Andiani mengatakan jumlah balita penderita gizi buruk sepanjang 2009 di Kabupaten Indramayu, mencapai 128 anak. Dari jumlah tersebut, balita yang meninggal mencapai dua anak.
"Namun jumlahnya jauh berkurang jika dibandingkan dengan tahun 2008," katanya.
Diah mengatakan pada 2008, jumlah penderita gizi buruk di Kabupaten Indramayu mencapai 956 anak. Dari jumlah itu, yang meninggal mencapai kurang dari sepuluh anak.
Menurut Diah, penyebab utama timbulnya kasus gizi buruk adalah rendahnya tingkat ekonomi keluarga balita. Akibatnya, orang tua balita tidak dapat memberikan asupan makanan yang bergizi bagi anak-anak mereka. Padahal, anak-anak membutuhkan gizi yang lebih banyak karena mereka sedang dalam masa pertumbuhan.
" Penyebab lainnya adalah kesalahan pola asuh balita. Apalagi, sebagian besar ibu dari balita penderita gizi buruk itu pergi bekerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI)."
Diah menjelaskan, setiap puskesmas memiliki program pemberian makanan tambahan (PMT) namun anggaran terbatas sehingga tidak dapat mencakup semua balita penderita gizi buruk. (BC-11)
Kasi Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Ind ramayu, Diah Andiani mengatakan jumlah balita penderita gizi buruk sepanjang 2009 di Kabupaten Indramayu, mencapai 128 anak. Dari jumlah tersebut, balita yang meninggal mencapai dua anak.
"Namun jumlahnya jauh berkurang jika dibandingkan dengan tahun 2008," katanya.
Diah mengatakan pada 2008, jumlah penderita gizi buruk di Kabupaten Indramayu mencapai 956 anak. Dari jumlah itu, yang meninggal mencapai kurang dari sepuluh anak.
Menurut Diah, penyebab utama timbulnya kasus gizi buruk adalah rendahnya tingkat ekonomi keluarga balita. Akibatnya, orang tua balita tidak dapat memberikan asupan makanan yang bergizi bagi anak-anak mereka. Padahal, anak-anak membutuhkan gizi yang lebih banyak karena mereka sedang dalam masa pertumbuhan.
" Penyebab lainnya adalah kesalahan pola asuh balita. Apalagi, sebagian besar ibu dari balita penderita gizi buruk itu pergi bekerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI)."
Diah menjelaskan, setiap puskesmas memiliki program pemberian makanan tambahan (PMT) namun anggaran terbatas sehingga tidak dapat mencakup semua balita penderita gizi buruk. (BC-11)
Komentar
mimosa
pada 25 Jun 2009 09:47 :
kesalahan semua pihak , termasuk orang tua juga . apalagi jika ibunya bekerja jadi tkw ( dan itu adalah suatu keterpaksaaan ) dimana suami sbg kepala keluarga tidak bisa memenuhi kewajibannya . sungguh miris 

aslah ibrahim
pada 30 Jun 2009 03:16 :
Semua peristiwa yang terjadi harus menjadi bahan bagi pemda indramayu. Masalah kesehatan anak harus menjadi prioritas utama, karena merekalah yang akan meneruskan kemajuan Kab. Indramayu di masa yang akan datang. Pemerintah harus tetap komitmen membela masyarakat bawah. Faktor ekonomi bukan alasan bagi sang anak untuk tetap sehat. Terkait dengan orang tua (TKW) yang mencari pekerjaan di luar negeri, pemerintah harus memberikan penyadaran kepada mereka melalui program-program yang bisa membuat para orang tua tersadarkan bahwa potensi kekayaan alam yang ada di Kab. Indramayu sangat besar. Para orang tua akan berpikir ulang untuk meninggalkan daerahnya sendiri.








