files/prodev1.jpg
Logo
Pendidikan untuk Perubahan
Oleh: M. Jauharul Fuad*)
The Cakrabuana Institute

Luar biasa. Itulah komentar saya setelah kemarin bertemu dengan Asep Sulaiman Sabanda, di kantornya di perkampungan Subang, Jawa Barat. Muda, energik, dan sholih. Saya datang bersama rombongan Al-Qudwah Trading Indonesia, kumpulan beberapa pengusaha muslim Singapura.


Jutaan ekor ayam diternakkan oleh Asep bersama 500-an peternak plasma binaannya. Visi bisnisnya yang “beda” mampu mencetak omset ratusan milyar setahun dan menjadikannya peternak ayam terbesar di Indonesia. Dengan Santika sebagai payung bisnisnya, pemuda Sunda itu bahkan ingin terus membesarkan skala usahanya. Harapannya suatu saat Indonesia bisa mengalahkan Brazil, yang sekarang ini produk ayamnya termurah di dunia.

Umurnya belum 30 tahun ketika setahun yang lalu Asep menerima penghargaan Young Entrepreneur of The Year dari Ernst & Young, salah satu konsultan bisnis kelas dunia. Yang menarik bagi saya, bagaimana seorang Asep dicetak. Ia besar di lingkungan pedesaan Subang, masa remajanya praktis dihabiskan nyantri di Pondok Modern Gontor, dan tak pernah kuliah di perguruan tinggi ternama. Usaha ternak ayam dijalaninya sejak umur 18 tahun, mengalir begitu saja, karena orang tuanya juga peternak ayam di desa.

Bagi saya, Asep bukan sekadar seorang pengusaha muda yang sukses. Lebih dari itu, ia sosok pionir. Untuk sukses ternyata orang tidak harus pergi ke kota. Kesuksesan ternyata juga tidak selalu perlu pendidikan tinggi yang berkelas. Paradoks-paradoks seperti itu mungkin sudah sering kita saksikan pada sosok yang lain juga. Bagi saya, yang menjadi penting adalah bagaimana kita bisa menemukan pola atau cetakannya.

Saya terus bertanya-tanya, apa rahasianya? Kebetulan sehari sebelumnya saya mengadakan pertemuan di Bandung dengan beberapa kawan alumni Gontor dan beberapa kawan alumni ITB. Dengan segala kelemahannya, dua institusi besar pendidikan itu menurut saya telah berhasil mencetak orang-orang yang mampu membuat perubahan.

ITB telah melahirkan Soekarno, presiden pertama kita. Memang sejarah mencatat, selain lulusan ITB, Soekarno pernah nyantri di rumah HOS Cokroaminoto—yang juga telah mencetak banyak tokoh lainnya. Kalau kita telusuri lagi, ternyata HOS Cokroaminoto pun ternyata keluaran Pesantren Tegalsari, cikal bakal Pondok Modern Gontor. Selain Soekarno, masih banyak tokoh lain yang dicetak oleh ITB.

Saya terus mencoba mencari makna dari semua ini. Perjumpaan saya dengan seorang Asep Sulaiman sedikit melegakan saya, karena sebetulnya sudah lama saya gelisah mencermati banyak sekali kejadian di negeri ini yang sulit diterima akal sehat. Kenapa bangsa ini terkuras habis energinya untuk pesta-pesta politik seperti pilkada di tengah kemiskinan akut. Bagaimana dana BLBI yang begitu besar tidak berhasil dikuak ujung pangkalnya.

Belakangan, kita ternyata juga tidak berhasil memetik pelajaran sedikit pun dari 30 tahun lebih masa kekuasaan Soeharto. Dari mana kita akan mulai memperbaiki keadaan negeri ini?

Kesimpulan saya, dari pendidikan—bukan dari bidang politik, ekonomi, atau yang lain-lain. Kita membutuhkan pendidikan yang mampu mencetak orang-orang yang bisa membuat perubahan. Mungkin butuh waktu panjang, katakan 30-50 tahun, tetapi ada kepastian. Daripada kita habis-habisan di politik, memperbanyak caleg atau memperebutkan bupati, terbukti perubahan tidak pernah terwujud—justru sebaliknya yang terjadi, orang-orang shalih justru ikut larus. Perbaikan negeri yang dicita-citakan bukan semakin dekat, justru semakin jauh.

Satu hal yang perlu kita jaga, jangan sampai pendidikan dikomersialkan—jadi lahan untuk mencari nafkah atau make profit. Ini kecenderungan yang banyak terjadi belakangan ini. Masyarakat mencatat Gontor telah mencetak banyak orang besar, tapi saya yakin masyarakat tidak pernah tahu bahwa pendiri Gontor telah menempuh perjuangan penuh pengorbanan. Saat para santri tidak mendapatkan kiriman dari orang tua mereka di kampung—karena keadaan perang dulu, Kyai menjual kekayaan pribadinya untuk mencukupi kebutuhan santri. Alih-alih mendapatkan keuntungan dari Gontor, bahkan kemudian mereka mewakafkan seluruh aset Gontor —yang notabene adalah milik pribadi mereka—kepada Pondok.

Untuk mengubah nasib bangsa ini, kita butuh pendidikan yang bisa mencetak orang-orang yang bisa membuat perubahan. Insya Allah, masa keemasan akan terbentang di hadapan bangsa ini.

*) Penulis pernah nyantri di Gontor dan kuliah di ITB, tetapi gagal menyelesaikan dua-duanya.
ki jogo aksoro pada 24 Mar 2008 11:12 :
mari kita buat format output SDM yang kita dambakan dengan teliti. Yuk!
Warni pada 24 Mar 2008 13:23 :
Wah sayang saya bukan lulusan ITB dan Gontor. Tapi maaf pak mencetak orang-orang besar bukan hanya orang ITB saja loh....
Nama :
Email :
Website :
Komentar :
Kode Verifikasi
Masukkan kode Verifikasi :
files/rupen-230x60.jpg
files/bj-230x60.jpg
files/bb-230x60.jpg
files/bm-230x60.jpg