27 Feb 2008 09:37
Soal Air Bisa Memicu Perang
Oleh Farid Gaban
Orang mungkin sulit membayangkan bagaimana Israel bisa menjadi pengekspor buah dan bunga ke Eropa. Israel dan wilayah Palestina yang diduduki pada umumnya adalah padang gersang tempat air sulit didapat.
Ke sebuah gurun gersang di Palestina beberapa tahun lalu saya berkunjung. Kawasan itu dikuasai Israel. Pemerintah Israel membangun sejumlah rumah-rumah kaca, tempat membiakkan tanaman. Mengingat kurangnya air, ilmuwan Israel menemukan teknik yang kemudian dikenal sebagai “drip system”—teknik pertanian tetes, yang menggunakan sesedikit mungkin air dan menambahkan unsur hara secara buatan.
Namun, sukses pertanian Israel tetap tergantung pada ketersediaan air seberapapun sedikitnya. Dan untuk itulah mereka akan terus mendindas Palestina demi memperebutkan air. Tidak hanya minyak, air bersih juga menjadi pokok pangkat sengketa dan perang di Timur Tengah.
Tapi, jika kita berpikir sengketa seperti itu tidak bisa terjadi di Indonesia, negeri kepulauan yang dikelilingi air, kita harus berpikir ulang. Dan itulah yang menuntut kita untuk waspada dan berpikir keras.
Di musim kemarau, kita membaca atau mendengar di banyak media, beberapa daerah mengalami masa kekeringan yang panjang. Tidak air untuk pengairan sawah dan pertanian, bahkan hanya sedikit pula yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan dasar sehari-hari: mandi, cuci dan air masak atau minum.
Dengan trend perubahan iklim global yang makin tidak menentu, serta kerusakan sumber-sumber air di hulu sungai akibat penggundulan hutan, soal air ini akan makin serius di masa mendatang. Beberapa pakar sudah meramalkan banyak daerah di Indonesia akan menghadapi kekurangan air dalam 5-10 tahun mendatang. Beberapa waduk dan sungai kian dangkal dan tak bisa dipakai lagi.
Di beberapa daerah sudah mulai muncul konflik dalam memperebutkan sumber air bersih. Konflik seperti ini bisa menjadi picu dari konflik yang lebih besar. Di padang gersang, orang bisa membunuh demi mendapatkan sekantung air bersih.
Ironisnya, kekeringan di musim kemarau Indonesia biasanya diikuti bencana lain di musim penghujan. Banyak warga di berbagai daerah Indonesia mengalami bencana sepanjang tahun. Kekeringan dan kelaparan di musim kemarau, banjir atau tertimbun tanah longsor di musim hujan.
Situasi ini membawa kita pada tuntutan untuk mulai bertindak serius melestarikan lingkungan alam, tidak sekadar slogan kosogn, namun dengan tindakan kongkret.
Namun, itu saja tidak cukup. Demi mencegah konflik, beberapa kota dan kabupaten yang berada dalam satu kesatuan daerah aliran sungai perlu bekerja sama untuk mengelola sumber airnya. Daerah Aliran Sungai Cimanuk dan Cisanggarung, yang mencakup hampir seluruh wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan) perlu bahu-membahu mengatasi masalah bersama.
Nampaknya sederhana. Namun ini merupakan keharusan. Dan menuntut pula kesediaan untuk menahan diri dari sikap egoistik kedaerahan.***
Orang mungkin sulit membayangkan bagaimana Israel bisa menjadi pengekspor buah dan bunga ke Eropa. Israel dan wilayah Palestina yang diduduki pada umumnya adalah padang gersang tempat air sulit didapat.
Ke sebuah gurun gersang di Palestina beberapa tahun lalu saya berkunjung. Kawasan itu dikuasai Israel. Pemerintah Israel membangun sejumlah rumah-rumah kaca, tempat membiakkan tanaman. Mengingat kurangnya air, ilmuwan Israel menemukan teknik yang kemudian dikenal sebagai “drip system”—teknik pertanian tetes, yang menggunakan sesedikit mungkin air dan menambahkan unsur hara secara buatan.
Namun, sukses pertanian Israel tetap tergantung pada ketersediaan air seberapapun sedikitnya. Dan untuk itulah mereka akan terus mendindas Palestina demi memperebutkan air. Tidak hanya minyak, air bersih juga menjadi pokok pangkat sengketa dan perang di Timur Tengah.
Tapi, jika kita berpikir sengketa seperti itu tidak bisa terjadi di Indonesia, negeri kepulauan yang dikelilingi air, kita harus berpikir ulang. Dan itulah yang menuntut kita untuk waspada dan berpikir keras.
Di musim kemarau, kita membaca atau mendengar di banyak media, beberapa daerah mengalami masa kekeringan yang panjang. Tidak air untuk pengairan sawah dan pertanian, bahkan hanya sedikit pula yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan dasar sehari-hari: mandi, cuci dan air masak atau minum.
Dengan trend perubahan iklim global yang makin tidak menentu, serta kerusakan sumber-sumber air di hulu sungai akibat penggundulan hutan, soal air ini akan makin serius di masa mendatang. Beberapa pakar sudah meramalkan banyak daerah di Indonesia akan menghadapi kekurangan air dalam 5-10 tahun mendatang. Beberapa waduk dan sungai kian dangkal dan tak bisa dipakai lagi.
Di beberapa daerah sudah mulai muncul konflik dalam memperebutkan sumber air bersih. Konflik seperti ini bisa menjadi picu dari konflik yang lebih besar. Di padang gersang, orang bisa membunuh demi mendapatkan sekantung air bersih.
Ironisnya, kekeringan di musim kemarau Indonesia biasanya diikuti bencana lain di musim penghujan. Banyak warga di berbagai daerah Indonesia mengalami bencana sepanjang tahun. Kekeringan dan kelaparan di musim kemarau, banjir atau tertimbun tanah longsor di musim hujan.
Situasi ini membawa kita pada tuntutan untuk mulai bertindak serius melestarikan lingkungan alam, tidak sekadar slogan kosogn, namun dengan tindakan kongkret.
Namun, itu saja tidak cukup. Demi mencegah konflik, beberapa kota dan kabupaten yang berada dalam satu kesatuan daerah aliran sungai perlu bekerja sama untuk mengelola sumber airnya. Daerah Aliran Sungai Cimanuk dan Cisanggarung, yang mencakup hampir seluruh wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan) perlu bahu-membahu mengatasi masalah bersama.
Nampaknya sederhana. Namun ini merupakan keharusan. Dan menuntut pula kesediaan untuk menahan diri dari sikap egoistik kedaerahan.***
Komentar
Belum ada Komentar







