files/prodev1.jpg
Logo
Sampah, Sepele tapi Memusingkan
Oleh : Asep Saefullah

Kota Jakarta menghasilkan sekitar 25 ribu meter kubik sampah setiap harinya. Gunung sampah yang terbentuk memusingkan pemerintah kota. Bandung memerlukan 1.000 truk untuk mengangkut sampah menuju pembuangan, padahal yang dimilikinya hanya 70 truk.

Kota lebih kecil seperti Pontianak di Kalimantan pun tak bebas dari masalah sampah. Produksi sampah di sana mencapai 350 ton per hari. Dengan 31 armada truk pengangkut sampah yang dimiliki Pemerintah Kota Pontianak, hanya sekitar 70 persen sampah yang bisa diangkut ke tempat pembuangan akhir tiap harinya.



Sampah, yang nampaknya sepele, menjadi soal serius yang memusingkan banyak pemerintah kota di Indonesia.

Masalah sampah di Kota Cirebon dan sekitarnya belum separah seperti di Jakarta atau Bandung. Namun, perlu mulai diantisipasi dari sekarang. Jumlah sampah di wilayah Cirebon terus meningkat bersama meningkatnya jumlah penduduk.

Sepanjang belum terlalu terlambat Cirebon juga mungkin perlu mengambil pelajaran dari Kota Kitakyushu di Jepang.

Kitakyushu adalah kota perdagangan dan industri berkelas internasional yang saat ini berpenduduk hampir satu juta jiwa. Pada 1960-an, ketika Zona Industri Kitakyushu dibangun dan menjadi empat besar zona industri utama di Jepang, kota ini menghadapi persoalan serius dalam hal polusi. Saat itu Jepang mencapai kemajuan luar biasa di bidang ekonomi, namun harus dibayar mahal dengan kerusakan lingkungan akibat polusi dan sampah. Langit gelap karena polusi udara. Perairan sekitar teluk tercemar.

Menghadapi persoalan pencemaran lingkungan hidup yang teramat parah, masyarakat Kota Kitakyushu bersama pemerintah setempat dan sektor industri bergandengan tangan memperbaiki kerusakan lingkungan tersebut.

Pada 1971, pemerintah kota membuat kebijakan yang tegas dan serius dalam mengatasi soal ini. Pemerintah membentuk Badan Lingkungan Hidup dan Biro Pengawas Polusi Lingkungan, serta membuat peraturan daerah dengan sanksi lebih keras, upaya penting mencegah polusi.

Keseriusan Kitakyushu ini terlihat pula dari pencanangan kota ini menjadi Kitakyushu Eco-Town Project sejak tahun 1997. Taman Riset dan Iptek yang mendalami riset lingkungan hidup dibentuk.

Kota ini juga memiliki industri ramah lingkungan. Wali Kota Kitakyushu Kenji Kitahashi mendorong sektor swasta mengembangkan industri daur ulang limbah padat seperti kaleng minuman, botol plastik, dan gelas menjadi barang bermanfaat.

Pemerintah Jepang mendorong swasta membangun industri daur ulang dan memberi subsidi. EcoWood, misalnya, mendaur ulang semua bahan dari kayu dan kemudian menjadikannya kayu baru untuk bahan proyek properti di Jepang.

Untuk menarik minat anak sekolah, pemerintah setempat membangun museum lingkungan hidup, di mana anak-anak prasekolah sampai mahasiswa belajar, memperoleh informasi, dan melakukan aktivitas terkait lingkungan di museum ini.

Selain meniru kota Kitakyushu, pemerintah kota dan kabupaten di Cirebon juga perlu mendukung upaya yang dilakukan sejumlah lembaga swadaya masyarakat dalam mendidik masyarakat mengelola sampah secara mandiri. Dengan cara ini, pemerintah diringankan beban untuk mengeluarkan biaya besar dalam pengelolaan sampah.

Beberapa kota di Indonesia telah muncul sejumlah inisiatif pengelolaan oleh masyarakat. Di Surabaya misalnya, pemerintah kota memberikan penghargaan tahunan untuk pemenang lomba kebersihan kampung-kampung melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Termasuk didalamnya adalah lomba daur ulang sampah plastik. Salahsatu pemenangnya adalah kelompok masyarakat yang membuat berbagai kreasi barang berguna dari bungkus mi instan.

Cirebon telah memiliki pabrik pembuatan kompos. Tapi, kapasitas produksinya masih sedikit. Selain itu, beban pabrik kompos di Cirebon sangat berat. Pasalnya, sampah organik yang sampai ke pabrik tersebut hasil pemilahan di tempat pembuangan akhir.

Untuk mengurangi beban tersebut, pemerintah harus mendidik warga untuk memilah sampah organik dan non-organik sejak dari rumah. Begitu juga dengan tempat pembuangan sampah sementara yang ada di berbagai pojok kota harus memisahkan sampah organik dan non-organik itu.

Ketika itu terjadi, pabrik kompos di Argasunya itu akan optimal berproduksi dan hanya sedikit sampah yang benar-benar sampah di Cirebon.***

Belum ada Komentar

Nama :
Email :
Website :
Komentar :
Kode Verifikasi
Masukkan kode Verifikasi :
files/rupen-230x60.jpg
files/bj-230x60.jpg
files/bb-230x60.jpg
files/bm-230x60.jpg