16 Apr 2008 00:37
Air, Agenda Pertama Walikota Cirebon
Oleh: M. Jauharul Fuad
Sungguh ironis. Penduduk Kota Cirebon kesulitan air bersih. Kejadian itu berulang kali terjadi. Saking kesalnya, beberapa warga Perumahan Griya Sunyaragi Permai (GSP) beramai-ramai mau mengajukan class action kepada PDAM Kota Cirebon, menjelang tutup tahun kemarin.
Kenapa disebut ironi? Karena sesungguhnya tak sampai 30 km dari Kota Cirebon, terdapat sumber mata air yang luar biasa besarnya. Gunung Ciremai, kreasi Sang Maha Pencipta, adalah sumber mata air yang tak pernah kering. Di belahan timurnya, bertebaran mata air Linggarjati, Cibulan, dan puluhan lainnya. Di belahan baratnya, mata airnya lebih banyak, dengan kapasitas yang lebih besar. Satu diantaranya Cipaniis, yang sekarang ini memenuhi hampir seluruh kebutuhan air bersih penduduk Kota Cirebon. Belum lagi Waduk Darma, yang berada di ketinggian 700 m dari permukaan laut. Mata air Cipaniis—dengan debit 700 sampai dengan 1.000 liter/detik—saja sudah mampu mengairi Kota Cirebon, kurang sedikit. Maka dengan tambahan satu dua mata air lagi, kekurangan air bersih Kota Cirebon akan terpenuhi, bahkan sampai puluhan tahun ke depan. Lalu dimana persoalannya?
Pertama, hubungan antar penguasa kedua daerah tidak berjalan harmonis. Yang jelas tidak ada visi bersama, masing-masing berada dalam tempurungnya sendiri. Atau mungkin karena ada kepentingan ”taktis” lainnya.
Kedua, tidak tersedia dana yang cukup dari kedua daerah untuk mendayagunakan potensi air berlimpah tersebut. Padahal, biaya eksploitasinya juga sangat murah. Air dari mata air gunung kualitasnya sangat bagus, sehingga tidak diperlukan pengolahan yang mahal. Apalagi mata air juga terletak di ketinggian, tinggal diglontorkan saja, relatif tidak diperlukan pompa—yang mahal harganya dan mahal pula biaya pengoperasiannya.
Kita semua tentu menginginkan kelangkaan air Kota Cirebon segera bisa teratasi. Jaminan kepastian suplai air tersebut bukan saja dibutuhkan oleh rumah tangga warga Kota Cirebon, tetapi juga dibutuhkan oleh para calon investor. Bagaimana pelabuhan akan dihidupkan tanpa ada kepastian suplai air bersih? Bagaimana pemukiman mau dibangun tanpa air bersih? Kalau energi bisa disubstitusi: bahan bakar minyak mahal bisa beralih ke batubara, tetapi air tidak ada substitusinya. Mutlak.
Langkah pertama yang harus ditempuh adalah membangun visi bersama antar daerah. Otonomi daerah tidak berarti menafikan peran daerah lain untuk membangun suatu daerah. Apa salahnya kalau Kota Cirebon harus membayar air kepada Kuningan? Toh manfaatnya pasti lebih besar daripada biayanya. Kuningan pun akan mendapatkan income yang memadai, sehingga konservasi sumber-sumber mata air juga bisa terjaga—yang pada akhirnya juga akan menguntungkan Kota Cirebon.
Langkah kedua, yang tidak kalah pentingnya, adalah memobilisasi sumber-sumber dana untuk investasi infrastruktur air. Gini hari memang daerah sudah tidak bisa mengandalkan dana dari Pusat atau Propinsi. Celakanya, di daerah juga tidak tersedia anggaran investasi—yang sesungguhnya akan berefek langsung pada kesejahteraan rakyat. Jadi bisa dimaklumi, kalau untuk investasi yang sebetulnya tidak banyak pun Pemda dan PDAM juga tidak bisa memenuhi.
Maka alternatifnya adalah memobilisasi dana masyarakat atau menarik investor. Memang ini bukan pekerjaan gampang, tetapi peluangnya sangat besar. Tidak gampang karena regulasi di bidang investasi air bersih serba tidak jelas. Di satu sisi memberikan keleluasaan untuk public private partnership, di sisi lain prosedur implementasinya banyak versi. Maka Pemda dan PDAM yang berani akan melangkah karena toh regulasinya juga tidak jelas, yang penting kebutuhan warga dan kebutuhan untuk pengembangan kotanya terpenuhi; sedang Pemda dan PDAM yang takut akan berjalan di tempat karena takut terjerat.
Sebagai warga kota, tentu kita menunggu langkah nyata para Walikota Cirebon, yang hari ini, Rabu 16 April 2008 dilantik!***
Sungguh ironis. Penduduk Kota Cirebon kesulitan air bersih. Kejadian itu berulang kali terjadi. Saking kesalnya, beberapa warga Perumahan Griya Sunyaragi Permai (GSP) beramai-ramai mau mengajukan class action kepada PDAM Kota Cirebon, menjelang tutup tahun kemarin.
Kenapa disebut ironi? Karena sesungguhnya tak sampai 30 km dari Kota Cirebon, terdapat sumber mata air yang luar biasa besarnya. Gunung Ciremai, kreasi Sang Maha Pencipta, adalah sumber mata air yang tak pernah kering. Di belahan timurnya, bertebaran mata air Linggarjati, Cibulan, dan puluhan lainnya. Di belahan baratnya, mata airnya lebih banyak, dengan kapasitas yang lebih besar. Satu diantaranya Cipaniis, yang sekarang ini memenuhi hampir seluruh kebutuhan air bersih penduduk Kota Cirebon. Belum lagi Waduk Darma, yang berada di ketinggian 700 m dari permukaan laut. Mata air Cipaniis—dengan debit 700 sampai dengan 1.000 liter/detik—saja sudah mampu mengairi Kota Cirebon, kurang sedikit. Maka dengan tambahan satu dua mata air lagi, kekurangan air bersih Kota Cirebon akan terpenuhi, bahkan sampai puluhan tahun ke depan. Lalu dimana persoalannya?
Pertama, hubungan antar penguasa kedua daerah tidak berjalan harmonis. Yang jelas tidak ada visi bersama, masing-masing berada dalam tempurungnya sendiri. Atau mungkin karena ada kepentingan ”taktis” lainnya.
Kedua, tidak tersedia dana yang cukup dari kedua daerah untuk mendayagunakan potensi air berlimpah tersebut. Padahal, biaya eksploitasinya juga sangat murah. Air dari mata air gunung kualitasnya sangat bagus, sehingga tidak diperlukan pengolahan yang mahal. Apalagi mata air juga terletak di ketinggian, tinggal diglontorkan saja, relatif tidak diperlukan pompa—yang mahal harganya dan mahal pula biaya pengoperasiannya.
Kita semua tentu menginginkan kelangkaan air Kota Cirebon segera bisa teratasi. Jaminan kepastian suplai air tersebut bukan saja dibutuhkan oleh rumah tangga warga Kota Cirebon, tetapi juga dibutuhkan oleh para calon investor. Bagaimana pelabuhan akan dihidupkan tanpa ada kepastian suplai air bersih? Bagaimana pemukiman mau dibangun tanpa air bersih? Kalau energi bisa disubstitusi: bahan bakar minyak mahal bisa beralih ke batubara, tetapi air tidak ada substitusinya. Mutlak.
Langkah pertama yang harus ditempuh adalah membangun visi bersama antar daerah. Otonomi daerah tidak berarti menafikan peran daerah lain untuk membangun suatu daerah. Apa salahnya kalau Kota Cirebon harus membayar air kepada Kuningan? Toh manfaatnya pasti lebih besar daripada biayanya. Kuningan pun akan mendapatkan income yang memadai, sehingga konservasi sumber-sumber mata air juga bisa terjaga—yang pada akhirnya juga akan menguntungkan Kota Cirebon.
Langkah kedua, yang tidak kalah pentingnya, adalah memobilisasi sumber-sumber dana untuk investasi infrastruktur air. Gini hari memang daerah sudah tidak bisa mengandalkan dana dari Pusat atau Propinsi. Celakanya, di daerah juga tidak tersedia anggaran investasi—yang sesungguhnya akan berefek langsung pada kesejahteraan rakyat. Jadi bisa dimaklumi, kalau untuk investasi yang sebetulnya tidak banyak pun Pemda dan PDAM juga tidak bisa memenuhi.
Maka alternatifnya adalah memobilisasi dana masyarakat atau menarik investor. Memang ini bukan pekerjaan gampang, tetapi peluangnya sangat besar. Tidak gampang karena regulasi di bidang investasi air bersih serba tidak jelas. Di satu sisi memberikan keleluasaan untuk public private partnership, di sisi lain prosedur implementasinya banyak versi. Maka Pemda dan PDAM yang berani akan melangkah karena toh regulasinya juga tidak jelas, yang penting kebutuhan warga dan kebutuhan untuk pengembangan kotanya terpenuhi; sedang Pemda dan PDAM yang takut akan berjalan di tempat karena takut terjerat.
Sebagai warga kota, tentu kita menunggu langkah nyata para Walikota Cirebon, yang hari ini, Rabu 16 April 2008 dilantik!***
Komentar
Rafi-JaMS
pada 19 Apr 2008 00:37 :
Tidak perlu menarik investor untuk menangani persoalan air di Kota Cirebon, soalnya dengan adanya investor maka rakyat akan dibebani dengan harga/tarip air karena investor akan menerapkan harga/tarip air dengan hukum pasar, inilah yang dinamakan imprialisme air. Padahal di pusat/anggaran APBN masih cukup banyak yang bisa diambil untuk biaya pengadaan air minum untuk masyarakat.Selain itu perlu pembenahan menejemen PDAM yang sekarang ini amburadul, terutama tentang sangat lemahnya penanganan kebocoran air padahal anggaran perawatan pipa air sangat besar. SEKALI LAGI SAYA INGATKAN KEPADA SELURUH RAKYAT KOTA CIREBON, AGAR MENOLAK PRIVATISASI AIR MINUM !!!! 

bambang werkudoro
pada 19 Apr 2008 13:16 :
Rakyat Cirebon nasibnya seperti kata pepatah "tikus mati di lumbung padi" akibat dari pada sifat egoismenya para pejabat birokrat kita, yang tidak berpihak kepada rakyat, mereka masih memikirkan keuntungan dibalik kesusahan yang dialami oleh rakyatnya sendiri.

Fatah
pada 25 Apr 2008 13:24 :
Dengan terpilihnya HADE sebagai Gub Jabar, kita dapat menagih janjinya untuk menjadikan Cirebon sbg provinsi baru.insyaallah jika terwujud, agenda pertama adalah menyatukan visi dan misi pembangunan wil.III cirebon dan sekitarnya, salah satunya masalah air ini. maka bagi warga kuningan dan kab. cirebon yang akan melaksanakan hajatan pilkada tahun ini, pilihlah pemimpin daerah yang benar-benar dapat menginspirasi seluruh lapisan rakyat, tidak hanya untuk golongan dan partainya sendiri. Lihat hasil pilkada jabar dan sumut, rakyat sudah tidak mempercayai orang-orang lama yang beredar di kancah politik ini. 

vanny
pada 25 Apr 2008 19:20 :
Kita semua sudah muak dengan muka2 lama yang pintar memutar balikkan fakta & selalu memikirkan pribadi, golongan & partainya, berikan kesempatan bagi pendatang baru, Insya Allah akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Fatah
pada 26 Apr 2008 10:11 :
Para pemimpin daerah khususnya cirebon dan kuningan dimohon untuk membuka mata hatinya. jangan hanya karena masa 5 tahun jabatan, anda akan menyesal di sisa umur dan di kehidupan yang kekal nanti. karena sebagai pemimpin akan diminta pertanggung jawaban baik di dunia (karma) dan nanti di akhirat. Jangan karena kepentingan politik dan bisnis anda menelantarkan saudara seimanmu yang kesulitan air. Marilah kita konsep pembangunan tidak hanya untuk jangka pendek melainkan untuk jangka panjang, dengan demikian nama anda akan selalu dikenang oleh anak cucu kita ke depan. 

alif
pada 27 Apr 2008 10:04 :
Ya, ganti dulu direkturnya. saya kira jalan terbaik adalah cari orang yang mau "berkorban" untuk membenahi PDAM Kota Cirebon. Saya setuju berita Radar Cirebon hari Jumat lalu. Ingat! PDAM bukan sekadar BUMD alias lembaga bisnis. Tetapi juga harus bisa melayani rakyat Cirebon. Ya bagaimana nggak bisa membayar utang ke Kuningan malah karaokean di muka umum. Memalukan.

alif
pada 27 Apr 2008 10:04 :
Ya, ganti dulu direkturnya. saya kira jalan terbaik adalah cari orang yang mau "berkorban" untuk membenahi PDAM Kota Cirebon. Saya setuju berita Radar Cirebon hari Jumat lalu. Ingat! PDAM bukan sekadar BUMD alias lembaga bisnis. Tetapi juga harus bisa melayani rakyat Cirebon. Ya bagaimana nggak bisa membayar utang ke Kuningan malah karaokean di muka umum. Memalukan.

Dul Joni
pada 10 Jun 2008 13:01 :
Gimana sengketa air mau bisa beres< kalo manajemen PDAM-nya aja udah nggak bener.
Mulai dari pencatatan meter yang nggak pernah beres tiap bulan alias asal nembak, sampe mau lapor gangguan aja susah. Padahal yang bocor air punya PDAM sendiri. udah keliatan bagaimana hebatnya Perusahaan Daerah Air Minum kita. N kayanya namanya juga udah musti diganti tuh! apa air dari PDAM udah bisa langsung diminum? kayanya mendingan pake nama Perusahaan Daerah Air Bersih aja deh, nggak usah muluk2.
Mulai dari pencatatan meter yang nggak pernah beres tiap bulan alias asal nembak, sampe mau lapor gangguan aja susah. Padahal yang bocor air punya PDAM sendiri. udah keliatan bagaimana hebatnya Perusahaan Daerah Air Minum kita. N kayanya namanya juga udah musti diganti tuh! apa air dari PDAM udah bisa langsung diminum? kayanya mendingan pake nama Perusahaan Daerah Air Bersih aja deh, nggak usah muluk2.

Fahmi
pada 27 Oct 2008 23:41 :
Sebenarnya permasalahan air ini tidak akan bisa terselesaikan kalau semua masalah yang ada di dalam manajemen PDAM mulai dari institusi, pelaksana dan pimpinan PDAM tidak segera di bereskan. Mungkin, buat mereka tidak pernah merasakan susahnya hidup dengan air yang tidak keluar2. Karena mereka tenang2 saja sebab air di rumahnya bisa dikirim dengan air tangki.

Hartoyo PDIP
pada 17 Dec 2008 23:52 :
Stop semua kebohongan publik yang bertujuan untuk menutupi bobroknya managemen PDAM. Bersihkan PDAM sebagai sarang para KORUPTOR berdasi.

swara
pada 29 Dec 2008 22:18 :
nasib rakyat memang selalu bak pelanduk yang mati di tengah bila gajah-gajah bertarung....

Widodo
pada 30 Aug 2009 02:53 :
prihatin sekali masalah air, sudah setahun terakhir ini di kota cirebon, khususnya di komplek taman nuansa majasem, kapan air PDAM mengalir normal 24 jam ...








