21 May 2008 11:53
Bermimpi Menjadi Kang Bardi
Oleh: Ariyo Higashi
KETIKA malam menggelanyut, tiba-tiba rasa kantuk menyerang dengan hebatnya. Saya jatuh tertidur dalam lelap dan bermimpi menjadi Kang Bardi, seorang Walikota Cirebon. Satu per satu masalah entah itu warisan dari kepemimpinan masa lalu maupun sekarang menghampiri dan musti diselesaikan. Ini pertaruhan jabatan saya dalam 100 hari pertama.
Sungguh, saya bercita-cita Cirebon menjadi kota dagang yang maju. Mengapa? Karena pangan dikuasai Majalengka, minyak dikuasai Indramayu, air dikuasai Kuningan. Nah Cirebon harus berbagi yakni dengan menyediakan tempat untuk mereka berdagang! Cirebon menyimpan berjuta potensi yang masih belum tergali. Tapi apa daya? Membayar kompensasi air ke Kuningan saja, anak buah saya ribut setengah mati.
Bicara kompensasi air, ya bayar saja. Gus Dur bilang, gitu aja kok repot. Pengetahuan keilmuan saya tentang akuntasi, yang namanya kompensasi air itu adalah bagian dari biaya pokok pengadaan air baku. Kan bisnisnya PDAM menjual air?! Nah, jika pengadaan air itu adalah biaya pokok, ya mustinya adalah yang paling pokok untuk dibayarkan. Betul tidak?!
Coba kita hitung bareng-bareng. Jika ada 50 ribu pelanggan PDAM, pendapatan minimum PDAM itu adalah sebesar 325 juta per bulan (abonemen 10m2 x tarif per m2 Rp. 650,00 x jumlah pelanggan) atau 3,9 Milyar per tahun (pendapatan per bulan x 12 bulan). Itu tidak seberapa dibandingkan “tagihan” 1,7 Milyar per tahun. Hanya sebesar 43,6% dari total pendapatan. Saya tidak perlu rapat tertutup, atau membawa anggota DPRD untuk bernegosiasi, bahkan bicara tentang kawasan hutan nasional. Masalah seperti ini cukup dengan kopi, rokok dan koran pagi hari.
Menteri Pariwisata Jero Wacik mencanangkan Visit Indonesia Year 2008. Rasanya Cirebon belum siap. Apalagi predikat kota terkotor masih menempel. Lihat saja Taman Ade Irma Suryani, Sunyaragi, dan taman serta jalan raya seperti tidak terawat. Padahal jika kita bisa menyulapnya menjadi indah, pasti bukan mustahil Cirebon menjadi daerah tujuan wisata alias Kota Pariwisata.
Jajaran saya paling banter cuma bisa bilang tidak ada budget untuk mengelola pariwisata Cirebon. Wah, memangnya semua harus dengan uang?! Kita bisa ajak bicara event organizer di Cirebon untuk menyelenggarakan even rutin di tempat-tempat pariwisata. Tidak perlu sewa tempat. Cukup selenggarakan even rutin dan bagi hasil atas pendapatannya. Justru Pemkot dapat duit kan?
Nah uang dari pendapatan even, akan saya buatkan usefull map atau peta bermanfaat. Bahkan mungkin saya tidak perlu mengeluarkan uang, usefull map bisa menjadi bagian dari promosi produk para pengusaha Cirebon. Cukup ditempatkan pada tempat strategis seperti Stasiun Kereta Api, Terminal, tempat belanja, hotel dll. Pernah ke Singapore atau Malaysia? Sempat ambil peta Singapore? Peta yang memuat jalan raya, rel kereta, tempat wisata, hotel, tempat makan, resto, cafe dll. Sangat berguna bagi wisatawan yang berkunjung. Apalagi peta ini bisa diperoleh dengan gratis. Ini peta yang saya maksud.
Bicara agro atau pertanian, sektor ini menguasai 38% lahan dari total 37 Km2.
Namun mahalnya pupuk dan pestisida membuat saya berpikir. Dulu nenek moyang kita menanam padi tanpa pupuk dan pestisida. Toh bisa berhasil. Pupuk kimia sebenarnya bisa digantikan dengan pupuk organik. Pestisida juga bisa digantikan organik.
Sebuah penelitian yang saya baca, penggunaan pupuk dan pestisida organik akan mampu mengurangi biaya pokok sampai dengan 70%. Dan hasil panennya pun akan lebih meningkat sampai dengan 2 kali lipat, bahkan lebih. Rendemen yang dihasilkanpun jauh lebih bagus dari pada hasil panen yang menggunakan pupuk dan pestisida berbahan kimia.
Bayangkan lahan pertanian seluas 1400 Ha, yang tahun lalu menghasilkan padi kurang lebih 3000 Ton, kemudian kita dorong petani untuk menggunakan pupuk organik. Panen meningkat 2 kali lipatnya atau 6000 Ton. Jika asumsi harga gabah Rp. 2.200,00 saja, pendapatan petani Cirebon akan memperoleh 13,2 Milyar rupiah. Itu belum termasuk penghematan biaya-biaya lainnya. Petani sejahtera bukan?
Justru yang sekarang berat untuk saya hadapi adalah rencana kenaikan BBM yang mungkin akan mencapai 30%. Bagaimana dengan biaya transportasi rakyat saya? Rakyat saya pengguna jasa angkutan umum masih lebih besar dari pada pemilik kendaraan pribadi. Saya jadi ingin turun ke jalan bersama mahasiswa.
Itu baru masalah transportasi. Tentunya harga BBM akan memicu inflasi lainnya. Tapi apa boleh buat, ini kebijakan pemerintah pusat. Walau bagaimanapun saya harus tetap tunduk. Tetapi saya tidak pantang menyerah.
It’s out of the box! Ketika semua orang berpikir subsidi itu salah, menolak kenaikan BBM, mengkambing hitamkan orang-orang borjuis dll tapi saya berpikir rakyat saya harus bisa membeli BBM setinggi apapun! Saya pun mengeryitkan dahi dan berpikir sejenak. Hanya sejenak!
Saya harus dan bisa membuka lapangan pekerjaan. Saya ingat ketika great depression tahun 1930an di Amerika (Saya belum lahir, tapi saya baca dari buku. Saya kan gemar membaca!). Ketika itu Amerika Serikat mengalami krisis ekonomi yang begitu dahsyatnya. Namun kemudian Washington DC mengeluarkan kebijakan padat karya. Mereka membangun kota untuk kegiatan perdagangan dan pinggiran kota menjadi daerah permukiman. Jurus ini cukup berhasil. Faktanya Amerika selamat dari krisis ketika itu.
Kemudian saya ambil peta Cirebon yang saya beli di perempatan Grage. 5000 saja. Saya amati dengan seksama. Eureka! Argasunya! Betapa kawasan tandus dan tidak produktif seluas kurang lebih 500 Ha itu adalah potensi terpendam untuk menyelamatkan rakyat saya dari krisis.
Ide saya kembali liar. Saya akan bangun Argasunya sebagai kawasan industri dan pemukiman juga pemerintahan. Investor akan saya bebaskan dari pajak dan biaya perijinan serta jaminan bebas biaya siluman. Sebagai kompensasinya, mereka wajib membangunkan Kantor Pemerintahan Kota Cirebon di Argasunya. Selama perhitungan investasi masuk, pasti investor akan tertarik. Dan rakyat saya akan bekerja.
Apalagi jika terintegrasi dengan Pelabuhan. Toh Jalan Tol sudah terbangun dan akan menyambung dengan Cikampek dan Jawa Tengah. Bandara Internasional sudah akan disiapkan Pemerintah Pusat di Majalengka. Argasunya adalah daerah yang tepat!
Pikiran saya kembali melayang jauh. Bagaimana jika Argasunya sebagai Free Trade Zone? Ah... nanti dulu lah. Yang penting rakyat saya bisa bekerja mencari uang dan membeli bensin.
Kopi buatan istri saya, saya seruput. Kemudian sebatang rokok saya hisap dalam-dalam. Tapi pasti butuh waktu lama untuk mengembangkan Argasunya. Tidak mengapa, untuk sementara saya jadikan sebagai konsep pembangunan 5 (lima) tahun ke depan, sebagai bahan pidato 100 hari kepemimpinan saya.
Kalau sudah begini, buat apa wacana Propinsi Cirebon. Buat saya yang penting rakyat saya bisa bekerja, mempunyai pendapatan yang berlimpah, sejahtera, terpenuhi pangan, sandang dan papan. Itu sudah cukup.
Saya membaca iklan lowongan pekerjaan sebuah perusahaan minyak dunia. Terdapat satu frase kalimat yang membuat saya terhenyak dan lebih tersadar, yakni Difficult Yes, Impossible No! Sulit sih memang, Mustahil sih tidak! Begitulah terjemahan bebasnya. Begitupula dengan Cirebon. Sungguh sulit, tapi bukan mustahil untuk membangun Cirebon yang maju.
Jam weker berbunyi. Saya terbangun dari mimpi. Waktu sudah menjelang shubuh. Saya bangun, mengambil wudhu, sholat subuh, membuka laptop dan menuliskan mimpi saya ini.
Agh, saya masih Ariyo Higashi, seorang pemimpi! Bukan Kang Bardi.
Ariyo Higashi, Warga Cirebon
Email: ariyo.higashi@gmail.com
KETIKA malam menggelanyut, tiba-tiba rasa kantuk menyerang dengan hebatnya. Saya jatuh tertidur dalam lelap dan bermimpi menjadi Kang Bardi, seorang Walikota Cirebon. Satu per satu masalah entah itu warisan dari kepemimpinan masa lalu maupun sekarang menghampiri dan musti diselesaikan. Ini pertaruhan jabatan saya dalam 100 hari pertama.
Sungguh, saya bercita-cita Cirebon menjadi kota dagang yang maju. Mengapa? Karena pangan dikuasai Majalengka, minyak dikuasai Indramayu, air dikuasai Kuningan. Nah Cirebon harus berbagi yakni dengan menyediakan tempat untuk mereka berdagang! Cirebon menyimpan berjuta potensi yang masih belum tergali. Tapi apa daya? Membayar kompensasi air ke Kuningan saja, anak buah saya ribut setengah mati.
Bicara kompensasi air, ya bayar saja. Gus Dur bilang, gitu aja kok repot. Pengetahuan keilmuan saya tentang akuntasi, yang namanya kompensasi air itu adalah bagian dari biaya pokok pengadaan air baku. Kan bisnisnya PDAM menjual air?! Nah, jika pengadaan air itu adalah biaya pokok, ya mustinya adalah yang paling pokok untuk dibayarkan. Betul tidak?!
Coba kita hitung bareng-bareng. Jika ada 50 ribu pelanggan PDAM, pendapatan minimum PDAM itu adalah sebesar 325 juta per bulan (abonemen 10m2 x tarif per m2 Rp. 650,00 x jumlah pelanggan) atau 3,9 Milyar per tahun (pendapatan per bulan x 12 bulan). Itu tidak seberapa dibandingkan “tagihan” 1,7 Milyar per tahun. Hanya sebesar 43,6% dari total pendapatan. Saya tidak perlu rapat tertutup, atau membawa anggota DPRD untuk bernegosiasi, bahkan bicara tentang kawasan hutan nasional. Masalah seperti ini cukup dengan kopi, rokok dan koran pagi hari.
Menteri Pariwisata Jero Wacik mencanangkan Visit Indonesia Year 2008. Rasanya Cirebon belum siap. Apalagi predikat kota terkotor masih menempel. Lihat saja Taman Ade Irma Suryani, Sunyaragi, dan taman serta jalan raya seperti tidak terawat. Padahal jika kita bisa menyulapnya menjadi indah, pasti bukan mustahil Cirebon menjadi daerah tujuan wisata alias Kota Pariwisata.
Jajaran saya paling banter cuma bisa bilang tidak ada budget untuk mengelola pariwisata Cirebon. Wah, memangnya semua harus dengan uang?! Kita bisa ajak bicara event organizer di Cirebon untuk menyelenggarakan even rutin di tempat-tempat pariwisata. Tidak perlu sewa tempat. Cukup selenggarakan even rutin dan bagi hasil atas pendapatannya. Justru Pemkot dapat duit kan?
Nah uang dari pendapatan even, akan saya buatkan usefull map atau peta bermanfaat. Bahkan mungkin saya tidak perlu mengeluarkan uang, usefull map bisa menjadi bagian dari promosi produk para pengusaha Cirebon. Cukup ditempatkan pada tempat strategis seperti Stasiun Kereta Api, Terminal, tempat belanja, hotel dll. Pernah ke Singapore atau Malaysia? Sempat ambil peta Singapore? Peta yang memuat jalan raya, rel kereta, tempat wisata, hotel, tempat makan, resto, cafe dll. Sangat berguna bagi wisatawan yang berkunjung. Apalagi peta ini bisa diperoleh dengan gratis. Ini peta yang saya maksud.
Bicara agro atau pertanian, sektor ini menguasai 38% lahan dari total 37 Km2.
Namun mahalnya pupuk dan pestisida membuat saya berpikir. Dulu nenek moyang kita menanam padi tanpa pupuk dan pestisida. Toh bisa berhasil. Pupuk kimia sebenarnya bisa digantikan dengan pupuk organik. Pestisida juga bisa digantikan organik.
Sebuah penelitian yang saya baca, penggunaan pupuk dan pestisida organik akan mampu mengurangi biaya pokok sampai dengan 70%. Dan hasil panennya pun akan lebih meningkat sampai dengan 2 kali lipat, bahkan lebih. Rendemen yang dihasilkanpun jauh lebih bagus dari pada hasil panen yang menggunakan pupuk dan pestisida berbahan kimia.
Bayangkan lahan pertanian seluas 1400 Ha, yang tahun lalu menghasilkan padi kurang lebih 3000 Ton, kemudian kita dorong petani untuk menggunakan pupuk organik. Panen meningkat 2 kali lipatnya atau 6000 Ton. Jika asumsi harga gabah Rp. 2.200,00 saja, pendapatan petani Cirebon akan memperoleh 13,2 Milyar rupiah. Itu belum termasuk penghematan biaya-biaya lainnya. Petani sejahtera bukan?
Justru yang sekarang berat untuk saya hadapi adalah rencana kenaikan BBM yang mungkin akan mencapai 30%. Bagaimana dengan biaya transportasi rakyat saya? Rakyat saya pengguna jasa angkutan umum masih lebih besar dari pada pemilik kendaraan pribadi. Saya jadi ingin turun ke jalan bersama mahasiswa.
Itu baru masalah transportasi. Tentunya harga BBM akan memicu inflasi lainnya. Tapi apa boleh buat, ini kebijakan pemerintah pusat. Walau bagaimanapun saya harus tetap tunduk. Tetapi saya tidak pantang menyerah.
It’s out of the box! Ketika semua orang berpikir subsidi itu salah, menolak kenaikan BBM, mengkambing hitamkan orang-orang borjuis dll tapi saya berpikir rakyat saya harus bisa membeli BBM setinggi apapun! Saya pun mengeryitkan dahi dan berpikir sejenak. Hanya sejenak!
Saya harus dan bisa membuka lapangan pekerjaan. Saya ingat ketika great depression tahun 1930an di Amerika (Saya belum lahir, tapi saya baca dari buku. Saya kan gemar membaca!). Ketika itu Amerika Serikat mengalami krisis ekonomi yang begitu dahsyatnya. Namun kemudian Washington DC mengeluarkan kebijakan padat karya. Mereka membangun kota untuk kegiatan perdagangan dan pinggiran kota menjadi daerah permukiman. Jurus ini cukup berhasil. Faktanya Amerika selamat dari krisis ketika itu.
Kemudian saya ambil peta Cirebon yang saya beli di perempatan Grage. 5000 saja. Saya amati dengan seksama. Eureka! Argasunya! Betapa kawasan tandus dan tidak produktif seluas kurang lebih 500 Ha itu adalah potensi terpendam untuk menyelamatkan rakyat saya dari krisis.
Ide saya kembali liar. Saya akan bangun Argasunya sebagai kawasan industri dan pemukiman juga pemerintahan. Investor akan saya bebaskan dari pajak dan biaya perijinan serta jaminan bebas biaya siluman. Sebagai kompensasinya, mereka wajib membangunkan Kantor Pemerintahan Kota Cirebon di Argasunya. Selama perhitungan investasi masuk, pasti investor akan tertarik. Dan rakyat saya akan bekerja.
Apalagi jika terintegrasi dengan Pelabuhan. Toh Jalan Tol sudah terbangun dan akan menyambung dengan Cikampek dan Jawa Tengah. Bandara Internasional sudah akan disiapkan Pemerintah Pusat di Majalengka. Argasunya adalah daerah yang tepat!
Pikiran saya kembali melayang jauh. Bagaimana jika Argasunya sebagai Free Trade Zone? Ah... nanti dulu lah. Yang penting rakyat saya bisa bekerja mencari uang dan membeli bensin.
Kopi buatan istri saya, saya seruput. Kemudian sebatang rokok saya hisap dalam-dalam. Tapi pasti butuh waktu lama untuk mengembangkan Argasunya. Tidak mengapa, untuk sementara saya jadikan sebagai konsep pembangunan 5 (lima) tahun ke depan, sebagai bahan pidato 100 hari kepemimpinan saya.
Kalau sudah begini, buat apa wacana Propinsi Cirebon. Buat saya yang penting rakyat saya bisa bekerja, mempunyai pendapatan yang berlimpah, sejahtera, terpenuhi pangan, sandang dan papan. Itu sudah cukup.
Saya membaca iklan lowongan pekerjaan sebuah perusahaan minyak dunia. Terdapat satu frase kalimat yang membuat saya terhenyak dan lebih tersadar, yakni Difficult Yes, Impossible No! Sulit sih memang, Mustahil sih tidak! Begitulah terjemahan bebasnya. Begitupula dengan Cirebon. Sungguh sulit, tapi bukan mustahil untuk membangun Cirebon yang maju.
Jam weker berbunyi. Saya terbangun dari mimpi. Waktu sudah menjelang shubuh. Saya bangun, mengambil wudhu, sholat subuh, membuka laptop dan menuliskan mimpi saya ini.
Agh, saya masih Ariyo Higashi, seorang pemimpi! Bukan Kang Bardi.
Ariyo Higashi, Warga Cirebon
Email: ariyo.higashi@gmail.com
Komentar
Kang_Duloh
pada 21 May 2008 18:36 :
Kata kang Bardi; Nah loh...ente kan pilih isun, lan mekenen lah isun...!!
kang pinter sapa ....?makanya jangan sering berharap memimpikan saya
kang pinter sapa ....?makanya jangan sering berharap memimpikan saya

jamees watt
pada 26 May 2008 07:22 :
Coba kita hitung bareng-bareng. Jika ada 50 ribu pelanggan PDAM, pendapatan minimum PDAM itu adalah sebesar 325 juta per bulan (abonemen 10m2 x tarif per m2 Rp. 650,00 x jumlah pelanggan) atau 3,9
Milyar per tahun (pendapatan per bulan x 12 bulan). Itu tidak seberapa dibandingkan �tagihan� 1,7 Milyar per tahun. Hanya sebesar 43,6% dari total pendapatan. Saya tidak perlu rapat tertutup, atau membawa anggota DPRD untuk bernegosiasi, bahkan bicara tentang kawasan hutan nasional. Masalah seperti ini cukup dengan kopi, rokok dan koran pagi hari.
(sayang... anda cuma bermimpi pakah tidak terpikir seberapa operasional dalam setahun, biaya investasi dan penyusutan, gaji karyawan, uang yang sekarang dibagi2 buat masyarakat di paniis keuntungan yang harus disetor ke pemkot 1,7 itu hanya biaya pokok....bung tapi ga papa toh anda hanya mimpi.. tidak ada salah nya
Milyar per tahun (pendapatan per bulan x 12 bulan). Itu tidak seberapa dibandingkan �tagihan� 1,7 Milyar per tahun. Hanya sebesar 43,6% dari total pendapatan. Saya tidak perlu rapat tertutup, atau membawa anggota DPRD untuk bernegosiasi, bahkan bicara tentang kawasan hutan nasional. Masalah seperti ini cukup dengan kopi, rokok dan koran pagi hari.
(sayang... anda cuma bermimpi pakah tidak terpikir seberapa operasional dalam setahun, biaya investasi dan penyusutan, gaji karyawan, uang yang sekarang dibagi2 buat masyarakat di paniis keuntungan yang harus disetor ke pemkot 1,7 itu hanya biaya pokok....bung tapi ga papa toh anda hanya mimpi.. tidak ada salah nya

agus safiyullah
pada 1 Jun 2008 22:13 :
Memang susah kalo para pejabat tidak punya niat suci untuk membangun Cirebon. Apakah SDM para pejabat kita kurang? atau tidak kreatif dalam mengelola pemerintahan?
Mimpi di atas bisa diwujudkan jika ada kepentingan bersama untuk mensejahterakan rakyat.
Mimpi di atas bisa diwujudkan jika ada kepentingan bersama untuk mensejahterakan rakyat.

Mbah Sunyaragi
pada 3 Jun 2008 14:15 :
tulisan di atas mengajak pemimpin untuk kreatif dan berpikirrr. bukan terussss semat2 hitungan angka atau mimpi2nya seperti yang apa dituliskannnnn.
hanya orang2 yang paham dan berpikir majuuuu yang mampu mencerna tulisan iniiii.

hanya orang2 yang paham dan berpikir majuuuu yang mampu mencerna tulisan iniiii.

loveprince
pada 6 Nov 2008 19:21 :
Masalah terbesar Kota Cirebon adalah pemimpin yg tidak cerdas dan tanpa visi yg jelas. Di jaman otonomi daerah seperti sekarang, semua daerah berlomba2x memajukan daerahnya. Jadi mudah sekali terlihat mana pemimpin yg cerdas dan tidak. Artikel Ariyo di atas sebenarnya sangat2x sederhana sekali dan mudah diimplementasikan. Itu sudah standar ilmu manajemen kota modern. Hanya masalahnya tidak ada "goodwill" dari pemimpin kita. Bahkan mungkin mereka sendiri ga tau apa arti dari "goodwill"... 

sweety
pada 15 Nov 2008 03:35 :
Kang Bardi, anda itu gimana seh, saya ini bingung gaya kepemimpinan anda sangat seniman sekali (bukan berarti seniman itu buruk) maksut saya anda ini sangat mbingungi. Bingung mana Prioritas kerja anda yang utama untuk dilakukan. Saya kok jadi ngeri, jangan-jangan Dajjal di mulai dari cirebon dengan krisis air bersih. Kang-kang masalah yang sepele begitu kok gak bisa tuntas-tuntas. jangan-jangan sampean itu sudah biasa mandi di comberan yang gak butuh air bersih, atau anda melakukan aktifitas sholat anda dengan bertayamum karna seretnya air bersih, trus anda berharap masyarkat cirebon juga harus bisa menerapkan hal yang sama seperti yang anda lakukan sehari-hari....halah-halah melas temen otak anda ini. masyarakat memilih anda karena mereka bisa berharap banyak kepada kepemimpinan anda, tapi sayang yang terjadi justru sangat terbalik....Bertobatlah kang bardi...untung saya dulu gak pilih ente hehehe








