21 Oct 2008 07:41
Revolusi Jilbab dalam Damai
Oleh Farid GabanDUA dari beberapa perempuan pemakai jilbab pertama di Indonesia adalah bekas penerjun payung dan pemain piano merangkap penyiar radio. Saya bersyukur mengenal mereka secara pribadi. Mereka mahasiwa senior saya di Institut Teknologi Bandung, pada 1980-an.
Dengan caranya yang bersahaja, mereka berdua ikut berjasa mendorong “revolusi jilbab”—sebuah perubahan besar cara berbusana perempuan Indonesia dalam 30 tahun terakhir.
Dibutuhkan keberanian luar biasa untuk merombak persepsi. Bahkan keberanian sekadar untuk nampak berbeda dari arus busana besar kala itu. Dan setiap kali mendengar orang memperbincangkan kontroversi jilbab, saya teringat pada dua perempuan pemberani itu.
Mereka berhasil mengubah pandangan lazim kala itu bahwa jilbab adalah simbol penindasan terhadap perempuan dan bahwa mengenakan busana yang mereka yakini sesuai ajaran Islam tidaklah identik dengan inferiositas serta keterbelakangan. Mereka perempuan yang aktif di luar rumah, mahasiswi di salah satu institut teknologi terkemuka negeri ini.
Tentu saja, perubahan pandangan umum itu juga diilhami oleh gambar-gambar muslimah Iran semasa revolusi yang dipimpin Ayatollah Khomeini. Jilbab tak menghalangi mahasiswi Iran turun ke jalan atau bahkan mengangkat Kalashnikov dalam perang dengan Rezim Saddam Hussein di Irak.
Tapi, di Indonesia zaman Orde Baru itu, jilbab atau semua yang berbau Islam tidak hanya cenderung dipandang sebagai keterbelakangan, melainkan juga sebagai simbol fanatisme, fundamentalisme dan ekstremisme. Sebaliknya, dengan sikap mereka yang santun dan toleran, kedua mahasiswi ini berjasa membalikkan pandangan sinis tadi.
Saya sering melihat mereka berjalan di kampus bersama rekan-rekannya yang bercelana jeans atau rok ketat. Mereka tidak nampak minder, namun pada saat yang sama mereka juga tidak menampakkan diri sok paling Islam.
Justru sikap santai dan toleran inilah yang menurut saya membuat pemakaian jilbab makin populer, menular ke mahasiswi lain dan bahkan ke siswi-siswi sekolah menengah di Bandung dan kota-kota lain.
Tanggapan represif dari Orde Baru membantu mereka mempopulerkan jilbab ke kalangan lebih luas lagi. Sebagai wartawan baru kala itu, saya teringat melaporkan untuk Majalah Tempo nasib siswi-siswi SMA dan karyawati pabrik yang dipecat karena memakai jilbab. Ini sering menerbitkan ketegangan dalam keluarga. Banyak orangtua melarang putrinya berjilbab karena takut kehilangan peluang sekolah dan mendapatkan pekerjaan. Penindasan oleh pemerintah ini telah menerbitkan simpati yang makin luas dan menjadikan jilbab salah satu simbol perlawanan terhadap rezim.
Dan pada akhirnya, kita tahu jilbab di masa kini menjadi busana yang lazim. Jilbab bahkan menjadi salah satu bagian dari seni rancang busana kontemporer. Di dunia komersial, perempuan berjilbab kini bisa tampil menjadi model iklan shampo, misalnya, suatu hal yang tidak terbayangkan 30 tahun lalu.
Dua mahasiswi pemberani itu telah ikut mengubah dunia. Mereka juga menyadarkan kita betapa perubahan besar sebenarnya bisa dimulai dari hal kecil, dari segelintir orang yang berani mengambil risiko, namun pada saat yang sama menggaet simpati karena sikap mereka yang toleran.
Mudah-mudahan ini juga menyadarkan kita bahwa seperti Orde Baru gagal menumpas revolusi jilbab, peraturan daerah syariah yang mewajibkan perempuan memakai jilbab juga akan berakhir pada kegagalan.***
Komentar
Gunawan
pada 28 Oct 2008 17:15 :
Sesuatu yang dipaksakan akan menimbulkan perlawanan dan antipati. Seperti dulu, saat seragam pramuka diwajibkan di sekolah. Kewajiban ini, justru menciderai dan merusak makna dari pakaian atau busana tsb.

Sugiyanto
pada 30 Oct 2008 08:49 :
Wanita sebagai miniatur dalam laboratorium keluarga.
Dari sanalah kita di didik dari kandungannya sampai kemudian kita terlahir dan tumbuh dewasa ....
Perbaikan bangsa ini tidak lepas dari pola pendidikan dalam keluarga ...
Ketika wanita memberikan teladan kepada anak-anaknya, akan pentingnya batasan-batasan wanita dalam pergaulan, baik pergaulan di rumah ataupun pergaulan di luar rumah..
Pangkal pendidikan adanya di keluarga, dan pendidikan di keluarga lebih dominan dididik oleh wanita (Ibu)
Maka wanita, adalah hal yang istimewa keberadaanya di dunia, ia adalah perhiasan, dan ia juga sebagai teladan bagi anak-anaknya ....
Sehingga hal yang sangat tepat jika wanita dimanapun ia berada, ketika ia hijab dirinya dengan hijab secara fisik juga hijab dalam prilakunya ...
Ini adalah salah satu cara, agar bangsa ini memiliki generasi-generasi menjunjung tinggi nilai moral. Sehingga menjadi bangsa yang beradab dan bermoral ...
Fenomena yang kerusakan moral bangsa ini tidak terlepas dari yang namanya W A N I T A.....
untuk itu...
Sangat lah bijak jika seluruh wanita yang ada di muka bumi ini, menyadari akan pentingnya menjaga hijab ....
matur nuwun
Dari sanalah kita di didik dari kandungannya sampai kemudian kita terlahir dan tumbuh dewasa ....
Perbaikan bangsa ini tidak lepas dari pola pendidikan dalam keluarga ...
Ketika wanita memberikan teladan kepada anak-anaknya, akan pentingnya batasan-batasan wanita dalam pergaulan, baik pergaulan di rumah ataupun pergaulan di luar rumah..
Pangkal pendidikan adanya di keluarga, dan pendidikan di keluarga lebih dominan dididik oleh wanita (Ibu)
Maka wanita, adalah hal yang istimewa keberadaanya di dunia, ia adalah perhiasan, dan ia juga sebagai teladan bagi anak-anaknya ....
Sehingga hal yang sangat tepat jika wanita dimanapun ia berada, ketika ia hijab dirinya dengan hijab secara fisik juga hijab dalam prilakunya ...
Ini adalah salah satu cara, agar bangsa ini memiliki generasi-generasi menjunjung tinggi nilai moral. Sehingga menjadi bangsa yang beradab dan bermoral ...
Fenomena yang kerusakan moral bangsa ini tidak terlepas dari yang namanya W A N I T A.....
untuk itu...
Sangat lah bijak jika seluruh wanita yang ada di muka bumi ini, menyadari akan pentingnya menjaga hijab ....
matur nuwun








