10 Nov 2008 14:15
Urgent: Bank Pertanian
Urgent: Bank Pertanian
Oleh: M. Jauharul Fuad*)
Seminggu yang lalu, bersama seorang kawan saya berkunjung ke Kuala Lumpur. Seorang kawan lama mengundang kami. Malam itu rupanya kami dipertemukan dengan seorang pengusaha Malaysia. Sambil menikmati suguhan di restoran miliknya, kami mulai berbincang-bincang.
Seperti biasa, pembicaraan kami tidak jauh dari topik "bagaimana negeri Indonesia yang kaya ini bisa begitu tidak berdaya". Kalau produk-produk high-tech seperti otomotif, telekomunikasi, atau IT, sudahlah jangan ditanya. Tapi sapi, ayam, jagung, kedelai, bahkan garam pun kita masih impor. Padahal tanah kita luas dan subur, dan pantai kita luar biasa panjangnya.
Aneh, apa yang salah? Sepintas memang tampak aneh. Tapi sebenarnya tak perlu heran. Karena selama ini kita tidak pernah sungguh-sungguh mengembangkan bidang pertanian, yang merupakan basis ketahanan bangsa kita. Salah satu indikatornya, realisasi kredit perbankan nasional untuk sektor pertanian rata-rata hanya 5 persen. Di Cirebon sekitar 6 persen. Bagaimana mungkin dengan pembiayaan yang sangat minim pertanian kita akan bisa maju?
Seminggu sebelumnya kebetulan kami sempat mendatangi salah satu bank di Cirebon, untuk menjajagi kemungkinan pembiayaan budidaya jagung. Rupanya memang bank tidak tertarik membiayai usaha budidaya; bank hanya mau membiayai perdagangannya. Jangan-jangan memang BI juga tidak merekomendasikan kredit untuk budidaya. Jadi klop.
Bandingkan, misalnya, dengan Cina. Menyikapi krisis finansial global ini, yang pertama kali diinjeksi oleh Pemerintah Cina adalah Agriculture Bank of China (ABC). Karena seperti di Indonesia, bagian terbesar penduduk Cina hidup dari pertanian. Dengan menginjeksi bank pertaniannya, produktivitas domestiknya bisa dipertahankan. Daya beli domestik pun dengan sendirinya akan tetap terjaga.
Pemerintah Malaysia tampaknya juga sungguh-sungguh mendorong pertanian. Perdana Menteri Badawi selalu mengatakan bahwa berladang itu juga berniaga. Seluruh pelosok negeri digenjot pertaniannya, begitu menurut kawan saya yang pengusaha Malaysia itu. Meskipun karena keterbatasan lahan dan penduduknya, mereka terpaksa masih mengimpor beras.
Bayu Krishnamurti, Deputy Menko Ekuin Bidang Pertanian, pernah mengatakan, bahwa untuk merevitalisasi pertanian di wilayah Pantura, dibutuhkan dana 10 trilyun. Itu kalau memang Pemerintah komit dengan revitalisasi pertanian. Kenyataannya memang jauh dari harapan.
Tanpa dukungan pembiayaan yang memadai, mustahil pertanian kita akan maju. Atau ... ya kita masih akan lama menyusu dari bangsa lain.
*) Pengusaha Real Estate
Oleh: M. Jauharul Fuad*)
Seminggu yang lalu, bersama seorang kawan saya berkunjung ke Kuala Lumpur. Seorang kawan lama mengundang kami. Malam itu rupanya kami dipertemukan dengan seorang pengusaha Malaysia. Sambil menikmati suguhan di restoran miliknya, kami mulai berbincang-bincang.
Seperti biasa, pembicaraan kami tidak jauh dari topik "bagaimana negeri Indonesia yang kaya ini bisa begitu tidak berdaya". Kalau produk-produk high-tech seperti otomotif, telekomunikasi, atau IT, sudahlah jangan ditanya. Tapi sapi, ayam, jagung, kedelai, bahkan garam pun kita masih impor. Padahal tanah kita luas dan subur, dan pantai kita luar biasa panjangnya.
Aneh, apa yang salah? Sepintas memang tampak aneh. Tapi sebenarnya tak perlu heran. Karena selama ini kita tidak pernah sungguh-sungguh mengembangkan bidang pertanian, yang merupakan basis ketahanan bangsa kita. Salah satu indikatornya, realisasi kredit perbankan nasional untuk sektor pertanian rata-rata hanya 5 persen. Di Cirebon sekitar 6 persen. Bagaimana mungkin dengan pembiayaan yang sangat minim pertanian kita akan bisa maju?
Seminggu sebelumnya kebetulan kami sempat mendatangi salah satu bank di Cirebon, untuk menjajagi kemungkinan pembiayaan budidaya jagung. Rupanya memang bank tidak tertarik membiayai usaha budidaya; bank hanya mau membiayai perdagangannya. Jangan-jangan memang BI juga tidak merekomendasikan kredit untuk budidaya. Jadi klop.
Bandingkan, misalnya, dengan Cina. Menyikapi krisis finansial global ini, yang pertama kali diinjeksi oleh Pemerintah Cina adalah Agriculture Bank of China (ABC). Karena seperti di Indonesia, bagian terbesar penduduk Cina hidup dari pertanian. Dengan menginjeksi bank pertaniannya, produktivitas domestiknya bisa dipertahankan. Daya beli domestik pun dengan sendirinya akan tetap terjaga.
Pemerintah Malaysia tampaknya juga sungguh-sungguh mendorong pertanian. Perdana Menteri Badawi selalu mengatakan bahwa berladang itu juga berniaga. Seluruh pelosok negeri digenjot pertaniannya, begitu menurut kawan saya yang pengusaha Malaysia itu. Meskipun karena keterbatasan lahan dan penduduknya, mereka terpaksa masih mengimpor beras.
Bayu Krishnamurti, Deputy Menko Ekuin Bidang Pertanian, pernah mengatakan, bahwa untuk merevitalisasi pertanian di wilayah Pantura, dibutuhkan dana 10 trilyun. Itu kalau memang Pemerintah komit dengan revitalisasi pertanian. Kenyataannya memang jauh dari harapan.
Tanpa dukungan pembiayaan yang memadai, mustahil pertanian kita akan maju. Atau ... ya kita masih akan lama menyusu dari bangsa lain.
*) Pengusaha Real Estate
Komentar
luli
pada 15 Nov 2008 03:21 :
Mungkin bangsa ini masih saja menganggap ber"agro" itu masih KUNO, Gak keren. Maklum lah kita ini dijajah Belanda 350 tahun jadi ya mendarah daging to kosumtifnya, segala yang kebarat-baratan itu dianggap Keren, Canggih, Hebat. Padahal Agro Bisnis sangat menjanjikan keuntungan yang besar. Kasihan orang-orang yang masih berpikir sangat KOLOT yang menganggap bahwa justru pemikiran mereka itu sangat MODERN

joni
pada 17 Nov 2008 03:11 :
bank di Indonesia kurang berminat dengan pembiayaan ke petani karena resiko bertani cukup besar. perlu adanya rekayasa-rekayasa tertentu agar tanaman petani tahan terhadap hama, cuaca dan perlunya sistematika pengairan.
salut kepada petani Indonesia
salut kepada petani Indonesia

jamaluddin
pada 24 Nov 2008 10:02 :
Lah jelas, wong bank2nya bukan punya kita, jadi maklum az. Apalagi BI ndak ada kemandirian karena slalu didikte negara2 donor, didorong untuk membeli produk2 negara2 pendonor. Artinya kalu pertanian kita maju, mereka takut produk mereka gak akan terbeli oleh masyarakat kita. 

ki datu
pada 11 Dec 2008 08:28 :
ya, ya BNK TANI itu kudu sigra diadaken. Halo BI segea action gitu lho. Halo pak Mentan, anda sponsor dong. Tanah indonesia yang subur paringane Gusti Allah harus disvukuri, ditanduri agar bangsa tidak kelaparan. Gak usah mikir reaksi negara lain yang iri sama Indonesia. SELAMAT PAGI

iwey
pada 14 Dec 2008 19:05 :
tetapi bagaimanapun juga harus ada usaha agar pertanian kita lebih meningkat.klo diem aja bagaimana mau meningkat, iya to?
jadi inget klo manusia itu ada 3 kriteria:
1. mereka yang ingin merubah keadaan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
2. mereka yang ingin merubah keadaan dan mampu merubah keadaan
3. mereka yang hanya diam saja terhadap keadaan.
kira-kira posisi kita dimana y?
jadi inget klo manusia itu ada 3 kriteria:
1. mereka yang ingin merubah keadaan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
2. mereka yang ingin merubah keadaan dan mampu merubah keadaan
3. mereka yang hanya diam saja terhadap keadaan.
kira-kira posisi kita dimana y?

dayat
pada 23 Dec 2008 05:38 :
Sejak dulu yang digadang-gadang adalah Industri shg muncul industri-2 dg investai besar yang kemudian ambruk, akan tetapi usaha tani sampai sekarang hanya berkutat masalah kelangkaan pupuk, rusaknya infrastruktur pengairan, tdk menentunya harga panen, rendahnya SDM,lha bgmn Bank mo percaya wong sarana pendukungnya sampai saat i8ni pemerintah tdk care








