files/prodev1.jpg
Logo
PEMBANGUNAN BANDARA INTERNASIONAL JAWA BARAT : SIAPA YANG DIUNTUNGKAN ?

PEMBANGUNAN BANDARA INTERNASIONAL JAWA BARAT : SIAPA YANG DIUNTUNGKAN ?

Penulis : Dadang S

Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sekjen Koalisi Ornop dan Ketua Komite Persiapan Sarekat Hijau Indonesia Jawa Barat

Pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat ( BIJB) yang terletak di wilayah kecamatan Kerta jati, Kabupaten Majalengka, diperkirakan akan menggusur lahan subur seluas kurang lebih 1.800 ha, yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat Kerta Jati. Ribuan orang terpaksa harus pindah. Entah kemana. Dan ribuan orang terpaksa juga harus kembali mencari pekerjaan, karena sebelumnya mereka bertani, kemudian mereka kehilangan tanahnya dan sudah dipastikan akan berhadapan dengan kesulitan.

Alih profesi bukan sesuatu yang dengan mudah dapat dilakukan. Selama ini masyarakat menjadikan kebun dan sawah sebagai sumber kehidupan utama. Pertanyaannya, adalah akankah rakyat yang terpaksa melepas tanahnya untuk sebuah proyek besar Pemprov Jabar ini akan lebih baik hidupnya?. Atau mereka hanya akan menjadi tumbal dari sebuah keinginan besar yang tidak mempertimbangkan hak hidup masyarakatnya.?

Rencana pembangunan BIJB dan Kertajati Aerocity telah diwacanakan sejak Tahun 2002 dan selanjutnya diimplementasikan oleh Gubernur Danny setiawan melalui suatu proses diskusi dengan Inkindo dan Kadin Jawa Barat, pada tahun 2003.

Kemudian untuk lebih memantapkan wacana tersebut maka pada Tahun 2003, pihak INKINDO memaparkan konsep awal pembangunan BIJB kepada DPRD Prov. Jabar dan kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan MOU antara Pemerintah Provinsi Jawa Baratdengan pihak INKINDO tentang Perencanaan Pembangunan BIJB Tahun 2003.

Penetapan lokasi tersebut, kemudian dikukuh dan diusulkan melalui Surat Gubernur Nomor 553.2/2271/Dalprog, tertanggal 29 Juli 2004 kepada Menteri Perhubungan RI . Disusul Surat Gubernur No. 553.2/2272/Dalprog/2004 ditujukan kepada Menko Perekonomian selaku Ketua Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BKTRN).

Dari surat usual Gubernur tersebut, maka lahirlah penetapan lokasi BIJB, melalui Keputusan Menteri perhubungan No. KM 34/2005 tertanggal 17 Mei 2005. Kemudian ditingkat kabupaten, Bupati Majalengka menetapkannya melalui surat Keputusan Bupati majalengka No. 16 tahun 2006.

Setelah melalui langkah-langkah penetapan, maka pihak Dinas Perhubungan Provinsi membuat Master Plan BIJB di kabupaten Majalengka dengan Peraturan Menteri perhubungan No. KM 5 tahun 2007. Sedangkan mengenai amdal, pihak Dinas Perhubungan telah pula melakukannya yaitu pada tahun 2006, dan kini sedang dalam proses penetapan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. (sumber : Majalengka Teknologi Informasi)

Beberapa masyarakat di lokasi calon areal BIJB di wilayah Kecamatan Kertajati mengaku tetap akan melakukan penolakan terhadap pembangunan BIJB, dengan alasan keberadaan bandara tersebut tidak jelas, tidak transparan dan lebih mengarah kepada proses pemiskinan masyarakat yang sudah miskin. Mereka berencana melakukan unjuk rasa ke Gedung Sate menyampaikan aspirasi warga setempat.

Menurut Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Melolak BIJB Heri SK, Minggu (10/8), ada 3 hal yang dianggap sangat mendasar yang memperkuat arus penolakan pembangunan BIJB, yaitu soal ketidak jelasan dan transparansi pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap rencana pembangunan tersebut, sehingga masyarakat tidak paham mengapa di daerahnya harus ada bandara dan bagaimana nasib mereka setelah adanya bandara.


Kedua, dipastikan pembangunan BIJB yang akan menggunakan lahan di 11 desa di wilayah Kertajati ini akan mempercepat proses pemiskinan masyarakat desa yang saat ini memang masih tergolong miskin. Hal tersebut bisa dilihat dari kultur masyarakat setempat yang masih kental dengan pola masyarakat agraris.

“Sangat sulit bagi masyarakat agraris untuk berpindah pola ke industri ataupun ke pekerjaan lain. Apalagi dengan tingkat pendidikan rata-rata di 11 desa tersebut yang masih sangat rendah. Sehingga pesimis kalau kelak masyarakat yang terusir akan ikut menikmati pembangunan bandara tersebut.” tuturnya.

Yang ketiga, saat ini Pemprov Jabar lebih banyak menebar kebohongan terhadap warga baik menyangkut amdal, masa depan warga maupun rencana besar (grand master) dari bandara itu sendiri. Menurut Heri Yanga, mereka tetap menolak dengan dalih apapun, karena merasa dilcehkan terhadap produktivitas tanah warga yang dianggap lahan tersebut tidak produktif. Padahal selama ini, masyarakat hidupnya bersumber dari lahan yang selama ini akan dijadikan Bandara. (sumber : PR)

Seperti dikatakan diawal, proyek BIJB merupakan proyek skala besar yang memerlukan kajian yang konfrehensif disegala bidang. Ada tiga aspek penting yang harus dikaji secara jujur dan terbuka khususnya kepada masyarakat yang terkena dampak langsung maupun tidak langsung. Ketiga aspek ini, yaitu: Aspek sosial, ekonomi dan ekologi. Analisi dari ketiga aspek ini harus dikaji secara profesional oleh tim yang memiliki integritas dan kecakapan dibidangnya masing. Bukan hanya sekedar menjadi dokumen pelengkap bagi terlaksananya proyek ini.


Mengapa hal ini penting dilakukan?. Sekali lagi proyek ini adalah proyek besar dan berdampak besar pula terhadap tatanan perikehidupan. Jangan sampai ada pihak yang dirugikan. Baik masyarakat maupun lingkungan.

pada 10 Feb 2009 11:06 :
sy sbagai warga kertajati,cuma bs pasrah.karena isu pembangunan bandara udah dari taun 2005.jikapun jd smoga membw masyarakat majalengka skitarnya mudah mndapat pekerjaan.
Kadang Telinga Tuli Ketika Mer pada 10 Feb 2009 12:28 :
Manusia memang tidak lepas dari keterbatasan menyikapi hidup, andai kekurangan itu disikapi secara konsisten tanpa membawa fisik manusia lain yang jelas-jelas sudah lemah untuk tujuan individu atau kelompoknya, ini yang tidak bisa hilang kita sebagai bangsa Indonesia, dengan bagaimana logika kita masuk dihati rakyat lemah,bukan bagaimana suritauladan yang dikedepannya, memang andai milih yang keduanya kita capai , lumpuh duluan ya udah jadi CMC (COT MARI COT) alias retorika yang dipakai. Lihat caleg sekarang, amburadul semua. Mengedepankan pamrih. Orang yang CMC ini kalau tujuan keraih ya parah lagi 2x lipat. Kita selalu diingatkan oleh Bung Karno "bangsa yang punya jiwa besar, bagaimana kita memberi untuk bangsa, bukan apa yang diberi bangsa buat kita."
fuad pada 10 Feb 2009 17:42 :
Saya kira, yang terpenting semua pihak membuka diri. Tapi memang faktanya, selama ini masyarakat selalu dirugikan. Kalau proyek ini tetap akan dijalankan, yang terpenting masyarakat disiapkan betul-betul. Jadi bisa mengambil manfaatnya.
ahmad pada 10 Feb 2009 20:50 :
Wah daerah kertajati adalah daerah yang potensi sebagai salah satu lahan subur Gedong Gincu yang menjadi buah kebanggaan Bangsa Indonesia,kalo tanahnya digusur gimana jadinya.tolonglah kalo mau ngebangun apa saja jangan ditanah yang subur tapi CARI tanah yang kurang produktif supaya semua jalan jangan mematikan salah satu potensi yang ada untuk mendamkan suatu harapan yang masih tinggal impian!
SIBIQ pada 11 Feb 2009 06:00 :
Reang sih setuju bae, bokat bae tambah maju.
borokokok pada 13 Feb 2009 16:33 :
kenapa selalu ada resistensi dari warga setiap ada pembangunan....
BIE pada 15 Feb 2009 09:48 :
Proyek infrastruktur jelas dibutuhkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Kalau ada ekses, termasuk perencanaan yang tidak terbuka dan merugikan pihak ketiga, tentunya pihak bertanggungjawab harus diseret ke meja hijau.
gando pada 15 Feb 2009 22:04 :
to the point...Pembangunan itu memang penting.tapi membangun itu bukan asal bangun saja.butuh waktu,modal,dll yang di butuhkan dalm pembangunan tsb...tapi yg lebih penting lagi,pemerintah JABAR juga harus memeikirkan dampak yang akan terjadi bagi masyarakat di kemudian hari khususnya di daerah tsb.apalagidaerah tsb sangat berpotensi bagi masyarakat sekitarnya,,kalau penbagunan tsb di laksanakan pasti JABAR di kenal masyarakat sebagai "PROVINSI NINGRAT TAPI RAKYATNYA MELERAT"
Cinta Lingkungan pada 24 Feb 2009 07:18 :
Kepada Dadang S, tolong berikan bagaimana cara-cara untuk mengatasi masalah tersebut secara spesifik dari segi lingkungan, anda bisa bukan? jangan selalu menulis masalah yang timbul dari suatu pembangunan karena setiap pembangunan dimanapun itu selalu berdampak terhadap lingkungan. Saya tunggu tulisannya.
Ade pada 25 Mar 2009 17:48 :
Aing mah satuju bae, asal ganti rugi na minimal Rp 100 rebu/m. Nu raribut mah biasa na provokator jeung jalma nu teu boga tanah nu harayang duit!!!!
Ade pada 26 Mar 2009 06:35 :
Hari gini masih ada orang yg menolak pembangunan!!!! APA KATA DUNIA???? Kita sekarang hidup di jaman modern, bukan di jaman Pajajaran atau Majapahit!!! You Know!!!
Ahmad pada 26 Apr 2009 07:17 :
Kita Tidak bisa bilang modern liat dari segi bangunan saja,tetapi yang paling penting adalah pikiran yang modern yang melihat posisi positif dan negatif nya.yaitu gimana bisa berbuat adil pada potensi. klo emang daerahnya potensi untuk pertanian yaa optimalkan lah untuk pertanian, Bandara kan bisa ambil daerah wilayah III yang lain yang tanahnya kurang begitu produktif agar semua potensi berjalan.
Diding pada 1 May 2009 10:46 :
Apa tidak sebaiknya mencari daerah yg lebih strategis.Disamping majalengka lahannya cukup produktif bukannya untuk sebuah bandara lebih baik menghadap ke laut dari pada ke gunung.contoh disepanjang pesisir cirebon atau indramayu.saya kira lebih mudah aksesnya dan lebih safety untuk sebuah bandara internasional...
risyad pada 31 May 2009 11:48 :
jangan lupa,kertajati+jatitujuh dan sekitarny mrupakan slah 1 lumbung padi majalengka dan jg jawa barat.apakh sdh d pkirkan efek bt masyarakat skitar kertajati yg dri atas k bawah sebagian besar masih mengandalkn hidupn dri sktor agraris
indra pada 21 Jul 2009 10:25 :
ah sok atuh x ngabangunmah der-der waelah. ulah ribut teuing ?? pamarentah ge geus apaleun meureun dampak baik dan buruknya. rakyatmah cicing wae ah ulah nyanyahoanan.. jeung kanu teu meunang jatah proyek tong ngritik jeung mendiskriminasikan pamarentah atuh. hidup sutrisno, hidup pa heryawan dan hidup pak SBY.... lanjutkan pembangunan kertajati
alek pada 22 Jul 2009 18:23 :
pembangunan harus dilakukan secepat mungkin demi kemajuan perekonomian yang ada di jawa barat
henda pada 7 Sep 2009 13:50 :
Setuju dibangun bandara asal tidak merugikan masyarakat, dengan hilang 5000-10.000 ha, masyarakat Majalengka terutama yang hidup seitar bandara jangan jadi penonton, begitu juga sektor pariwisata, Majalengka jangan hanya jadi tempat transit tapi harus jadi Daerah Tujuan Wisata!!!, kembalikan dari Bidang Pariwisata ke Dinas Pariwisata!!!
budak_kadipaten pada 30 Nov 2009 14:11 :
Aki Uing Boga Taneuh di Kertajati..uing ngarasa ber-Syukur ka ALOH SWT, Aki uing geus merek Beukeul hirup nepi ka anak-incu , ku kitu-na Kertajati areuk di jadikeun Lapangan Terbang (cenah). Lamun eta rencana jadi kanyataan, Uing mah mundut ka Pamarentah (pusat atawa daerah):
1. sing ADIL sa ADIL ADIL-na dina parkara GANTI Rugi Taneuh nu rek dipake (anu layak numutkeun kana kahrirupan ayeuna).
2. Peureunahkeun sing Tumaninah jang Rakyat (patani nu sok nyawah, pangebon anu sok ngebon jeung sajaba-na)ka tempat anyar anu Geunah,Tentram jeung Nyaman.
3. Ulah Poho sing sering2 we nga-wawarkeun ka RAKYAT Kertajati perkara rencana pangwangunan Lapangan Terbang ieu.
4. Aparat sing aya kawani nga-BASMI calo2 Taneuh anu geus la-liar di Sakitar Kertajati.

Prinsip uing mah SATUJU wae asal tekad Pamarentah bisa ngawajudkeun SILIH ASIH SILIH ASUH SILIH ASAH jang kamakmuran RAKYAT lain rek nga-Makmurkeun hiji JALMA.

Htur NUHUN.
Wassalam
"Cendikiawan Muda" pada 12 Jan 2010 13:36 :
Dwngarlah Wahai sakadang masyarakat kecamatan Kwrtajati,
mengingat taraf hidup dan sumberdaya manusia kita kian berada dalam kebimbangan, disamping itu teknologi, komunikasi dan perkembangan globalisasi semakin berorientasi kemasa depan,
maka seyogyanya kita selaku masyarakat yang memiliki intelektualitas yang mumpuni, patut bersyukur dengan adanya pembangunan Bandara Internasional di wilayah kita, sebab tidak menutup kemungkinan, kita sendiri yang harus bisa Survive/bertahan seiring kemajuan.
NB Lamun rek molor di gardu ronda bae mah, moal maju maju siah, kalah butakna oge.
Kop PIKIRAN BAE SORANGAN, tong musingkeun batur.
Kahartos Hileud Cau ???@
amirudin pada 13 Jan 2010 13:56 :
setuju pisang eh.... pissan lah aya BIJB ambeh gampang mudik ka lembur, ti putera talaga
dedeRatna pada 14 Jan 2010 21:36 :
Mungkin ada baiknya dikaji ulang tentang baik bruknya pembangunan Bandara di kertajati.. pertimbangkan lebih banyak baiknya kah atau buruknya. Saya selaku orang kertajatinya, merasa bhagia jika memang akan ad bandara internasional ditempat dimana saya dilahirkan. tapi itu mungkin hanya akan jadi kebahagiaan sementara jika pada tahun2 berikutnya setelah bandara itu jadi nasib keluarga besar saya yang ada disana menjadi taruhannya. misalnya, keadaan keluarga dan tetangga2, kerabat, sanak saudara saya skarang memang tdak begitu baik, tapi siapa juga yang mau menjadi lebih bruk jika stelah bndara itu jadi wagra sekitar nya yg merupakan pribuminya justru dilupakan dan jadi `pembantu` di tempat kelahirannya sndri. dan jadi tidak merasa nyaman ditempat dy menghabiskan waktu kecilnya itu. kami memang senang ketika pemerintah menawarkan harga yang tinggi untuk pembebasan lahan kami yg akan dijadikan bandara itu. kami senang karena bisa dpat uang byak. tp uang yang kami dpat tak akan bisa mencukupi biaya hidup kami untuk selamanya, jika kami tak mmpunyai keahlian khusus untuk bertahan hidup.. smentara itu keahlian rata2 masyarakat kertjati hanyalah mengolah sawah, sangat susah jika haruz dipaksa bekerja dibidang yang lainnya, meski mungkin ad sebagian besar yang bisa bertahan.
mungkin saran saya.. alangkah baiknya jika masyarakat diberi penyuluhan terlebih dahulu tentang baik brknya pembangunan bandara itu bagi mereka. jika mreka ttp mu bndra itu ad, brrti mreka sdh siap dg resikonya dan akn mnjalani resikonya itu. krena setahu saya... orang tua saya byk tidah mngetahui tentang proyek itu sama sekali, dan pendapat tiap masyarakat juga sangatlah berbeda jika ditanya perihal itu. itu brrti pemerintah blm bisa menjelaskan secara detail ke masyarakat tentang dampak positif atau negatifnya itu. selain itu, langkah baiknya juga jika masyarakat diikutsertakan dalam perkembangan pembangunan bandara itu.. dan bisa dipekerjakan juga... dengan demikian masyarakat masih bisa hidup tanpa sektor agraris yang biasa mereka lakukan.
saat ini saya sedang kuliah di jerman, dan mndpat berita dr ortu saya ttg pembebasan lhan itu, sayapun bhagia, krena mngkin bsa saja pas saya pulang nanti saya memilih untuk lngsung plang melalui bndara itu, jadi kn lebih dekat ke rumah saya dan tidak haruz ke jakarta dlu. tapi saya akan lebh bahagia jika keluarga n sanak saudara saya kedepannya tetap bahagia n tambah bhagia juga. terima kasih
yoga pada 18 Jan 2010 22:22 :
sangat bagus tulisannya.
Gabung di group Facebook untuk mendukung Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) dan TOL CISUMDAWU.
link nya: http://www.facebook.com/profile.php?ref=profile&id=1173627311#/group.php?gid=249831382035
trimakasih
aam amirudin pada 25 Jan 2010 13:42 :
harus setuju atuh bapak2 ibu2 ujang2 nyai2 ambeh majalengka teh maju
Sunandar pada 1 Mar 2010 16:38 :
Bandara Kertajati "JABRESSSSS" kabeh
NANDAR pada 1 Mar 2010 16:41 :
Pengurusan bandara kertajati bikin rusak orang tua saya, karena banyak di kolecean ku tikus-tikusna nurakus artos. Bandara kertajati han ngahuntu wungkul, pokona namina kabaeh "JELMA JABRESSSS"
Doni pada 18 May 2010 13:48 :
Satuju asal ulah raribut
Nama :
Email :
Website :
Komentar :
Kode Verifikasi
Masukkan kode Verifikasi :
files/rupen-230x60.jpg
files/bj-230x60.jpg
files/bb-230x60.jpg
files/bm-230x60.jpg