Oleh: M. Jauharul Fuad
Begitu cepat semua berubah. Sekarang kita tidak lagi melihat pers perjuangan. Jaman dulu kita punya Pedoman Rakyat atau koran-koran lain yang kental semangat perjuangannya. Bahkan hampir semua koran diterbitkan karena alasan ideologis: semangat perjuangan. Tetapi sekarang ini, setiap muncul media atau koran baru pasti dilatarbelakangi semangat bisnis, semangat korporasi, semangat kapitalistik, dan sejenisnya. Maka sekarang kita tidak lagi punya pers yang bisa menjadi pilar demokrasi dan mampu menjadi agen pendidikan masyarakat.
Dalam dunia pendidikan, kita juga melihat kecenderungan yang sama. Dulu Muhammadiyah membuat sekolah dengan semangat ingin menampung mereka yang tidak tertampung sekolah-sekolah Belanda. Pesantren-pesantren didirikan karena banyak orang yang tidak tertampung dalam pendidikan formal. Tetapi sekarang, orang-orang bikin sekolah dilandasi motivasi utama return on investment. Yang kita lihat sekarang ini banyak bermunculan sekolah mahal yang output-nya juga tidak menjamin mutu.
Bidang kesehatan juga tak terkecuali. Muhammadiyah dulu membangun PKU dengan semangat menolong sesama. Namanya bahkan dulu PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem). Sekarang berubah menjadi Pembina Kesejahteraan Umat. Karena semangat sosialnya yang tinggi itu, bahkan dulu banyak dokter Belanda yang berkhidmah di PKO di luar jam kerja mereka di Rumah Sakit Belanda. Sekarang bermunculan rumah sakit baru dengan semangat profit making. Pendirinya pun sebagian besar kalangan korporat.
Yang paling menyedihkan, sekarang orang-orang berlaga menjadi caleg atau bupati karena motif-motif sama dengan di atas. Maka perhitungannya, inves berapa dan akan kembali berapa, dalam jangka waktu yang sudah pasti yaitu lima tahun. Secara mudah kita bisa menghitung, bahwa gaji sekian tahun tidak akan feasible: alih-alih dapat “selisih”, pulang modal pun mungkin tidak. Tetapi kita tahu, disana ada peluang abuse of power, penyalahgunaan kekuasaan, sehingga kalau berhasil akan menghasilkan return yang besar.
Tegasnya, kita semua sedang meluncur ke bawah. Di semua organ kita terjadi pengeroposan nilai. Kalau tidak segera diobati, tidak lama lagi bangsa ini akan tutup buku alias kukut.***








